Makalah Kraton Yogyakarta

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      Latar Belakang

Perkembangan zaman lambat laun telah menggerus kebudayaan daerah yang kita miliki. Bukan hanya masyarakat yang tinggal diperkotaan saja, namun hampir semua masyarakat dari seluruh lapisan semakin lupa atau bahkan tidak mengenal akan keberadaan kebudayaan daerah mereka sendiri. Hal itu sedikit banyak disebabkan oleh pengaruh budaya asing terutama budaya barat, yang salah satunya masuk melalui perkembangan teknologi. Namun kita tidak perlu berkecil hati, karena setidaknya kita masih memiliki Kraton Yogyakarta, yang mampu menjaga budaya-budaya leluhur dengan keaslian bangunannya yang kental dengan nuansa jawa. Dengan adanya Keraton Yogyakarta budaya bangsa dapat lestari untuk dibanggakan pada dunia luar.

Kraton Yogyakarta memiliki berbagai macam benda hasil kebudayaan yang dapat kita lihat dengan cara mengelilingi dan melihat-lihat kraton Yogyakarta beserta bangunan-bangunan peninggalan zaman dahulu, yang sampai saat ini tetap berdiri kokoh. Kraton Yogyakarta, seakan identik dengan unsur kebudayaan Jawa, bahkan bisa di bilang merupakan pusat dari kebudayaan di Jawa. Kraton Yogyakarta dengan segala kekhasan budaya Jawa nya, memiliki arti simbolik di setiap bangunannya. Kraton Yogyakarta yang telah berganti pemimpinnya mulai dari Sri Sultan Hambengkubuwana I sampai X, memiliki sejarah yang cukup panjang yang perlu kita ketahui dan pelajari. Hal ini dikarenakan tidak sedikit dari kita yang tidak atau kurang memahami dan mengetahui apa sajakah bentuk kebudayaan yang ada di kraton Yogyakarta, bahkan sebagian orang beranggapan bahwa kraton tidak lebih dari sekedar tempat tinggal Sri Sultan Hamengkubuwono.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka makalah ini disusun, dengan harapan melalui makalah ini, kita dapat mengetahui aspek kebudayaan yang terdapat dalam kraton Yogyakarta, karena sebagai orang Jawa kita harus mampu memperdalam wawasan kebudayaan Jawa sekaligus merawatnya hingga dapat memperkaya kebudayaan daerah bahkan kebudayaan nasional. Serta dengan memahami dan mempelajari kebudayaan yang masih ada di kraton Yogyakarta, kita dapat menilai dan mengambil sisi baiknya untuk kemudian dipraktekan dalam kehidupan bermasyarakat.

  1. B.       Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah laporan praktek kuliah lapangan ini selain sebagai tugas mata kuliah apresiasi budaya, juga memiliki tujuan lain, yaitu:

  1. Memeperdalam wawasan tentang kebudayaan yang ada di kraton Yogyakarta?
  2. Dapat menyebutkan dan menjelaskan wujud-wujud budaya yang terdapat dalam kraton Yogyakarta?
  3. Dapat mendeskripsikan makna wujud budaya yang ada dalam kraton Yogyakarta?

 

  1. C.      Manfaat Penulisan

Hasil dari penulisan makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat yang secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

  1. Manfaat teoritik
    1. Tercapainya tujuan penulisan di atas, akan dapat memberikan penjelasan tambahan mengenai kraton Yogyakarta.
    2. Secara umum, penulisan makalah ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan wawasan kita. Secara khusus diharapkan dapat menambah wawasan kita dalam dunia pendidikan, mengenai wujud kebudayaan, dan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan pengetahuan tambahan tentang wujud, makna dan unsur kebudayaan yang terdapat dalam kraton Yogyakarta, khususnya bagi pembaca.
    3. Manfaat praktis
      1. Bagi Penulis

Penulisan makalah ini menjadi bentuk penerapan dari ilmu yang telah di peroleh diperkuliahan, serta memberikan penambahan pemahaman tentang budaya dalam kraton Yogyakarta.

  1. Bagi Mahasiswa

Hasil penyusunan makalah ini semoga memberikan tambahan pemahaman dan masukan mengenai kebudayaan.

BAB II

KAJIAN TEORI

  1. 1.    Wujud Budaya

Menurut Tylor (dalam Nyoman Kutha, 2005: 5) kebudayaan adalah keseluruhan aktivitas manusia, termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan lain. Sedangkan pengertian kata wujud adalah rupa dan bentuk yang dapat di raba, adanya sesuatu, benda yang nyata.

Menurut J.J. Hoenigman (dalam Koentjaraningrat, 2000), wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga, yaitu : gagasan, aktivitas, dan artefak. Kemudian Elly M.Setiadi dkk (2007:29-30) memberikan penjelasannya sebagai berikut :

1)   Wujud Ide

Wujud tersebut menunjukann wujud ide dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tak dapat diraba, dipegang ataupun difoto, dan tempatnya ada di alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. Budaya idea mempunyai fungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tindakan, kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai sopan santun. Kebudayaan ideal ini bisa juga disebut adat istiadat.

2)   Wujud perilaku

Wujud sering dinamakan sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia atau mayarakat itu sendiri. Wujud ini bisa diobservasi, di foto dan didokumentasikan karena dalam sistem ssosial ini terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi dan berhubungan serta bergaul satu dengan lainnya dalam masyarakat. Bersifat konkret dalam wujud perilaku dan bahasa.

3)   Wujud Artefak

Wujud ini disebut juga kebudayaan fisik, dimana seluruhnya merupakan hasil fisik. Sifatnya paling konkret dan bisa diraba, dilihat dan didokumentasikan. Contohnya : candi, bangunan, baju, kain komputer dll.

  1. 2.    Unsur-unsur kemanusiaan

Unsur-unsur kemanusiaan yang dibahas ada 8, yakni : hubungan manusia dengan cinta kasih, hubungan manusia dengan keindahan, hubungan manusia dengan penderitaan, hubungan manusia dengan keadilan, hubungan manusia dengan pandangan hidup, hubungan manusia dengan tanggung jawab, hubungan manusia dengan kegelisahan, dan hubungan manusia dengan harapan.

a)   Hubungan manusia dengan cinta kasih

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI, Balai Pustaka, 1996 ), cinta adalah rasa sangat suka ( kepada ) atau rasa sayang ( kepada ), ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih, artinya perasaan sayang atau cinta ( kepada ) atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian, arti cinta dan kasih itu hampir sama sehingga kata kasih dapat dikatakan lebih memperkuat rasa cinta. Oleh karena itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka ( sayang ) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.

Rasa cinta dan sayang adalah pemberian Tuhan kepada hambanya, karena adanya sayang dan cinta mungkin dunia ini akan begitu indah karena penghuninya memliki rasa diantara rasa yang sangat mulia. Munculnya cinta dan sayang bukan karena tanpa sebab, semua itu mungkin sudah direncanakan olehNya. Antara sayang dan cinta siapa saja pasti sudah bisa merasakan betapa indah, nikmat tentunya banyak yang di buat bahagia atasnya. Tapi juga dampak dari rasa sayang dan cinta mungkin banyak yang bilang sakit dan trauma bahkan sangat benci karena mengenalnya. Karena adanya cinta tiap manusia tentu bisa mengerti hal-hal yang mungkin akan efek dari kedua hal ini. Untuk memiliki cinta ini butuh tahap karena pada hakikatnya semua orang pingin mendapatkan cinta suci yang tinggi nilainya.

b)   Hubungan manusia dengan keindahan

Keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, (meskipun tidak semua hasil seni indah, pemandangan alam (pantai, pegunungan, danau, bunga-bunga di lereng gunung), manusia (wajah, mata, bibir, hidung, rambut, kaki, tubuh), rumah (halaman, tanaman, perabot rumah tangga dan sebagainya), suara, warna dan sebagainya. Keindahan adalah identik dengan kebenaran, selain itu menurut luasnya dibedakan pengertian:

  1. Keindahan dalam arti luas

Keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan. Misalnya Plato menyebut watak yang indah dan hukum yang indah, keindahan merupakan sesuatu yang baik dan juga menyenangkan. Jadi pengertian yang seluas-Iuasnya meliputi : · keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, keindahan intelektual.

  1. Keindahan alam arti estetik murni.

Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya.

  1. Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan

Keindahan dalam arti yang terbatas, mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna. keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebalikan dari garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara benda itu dengan si pengarnat. Nilai estetik Dalam rangka teori umum tentang nilai menjelaskan bahwa, pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomi, nilai pendidikan, dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetik.

Hubungan manusia dan keindahan

Manusia memiliki lima komponen yang secara otomatis dimiliki ketika manusia tesebut dilahirkan. Ke-lima komponen tersebut adalah nafsu, akal, hati, ruh, dan sirri (rahasia ilahi). Dengan modal yang telah diberikan kepada manusia itulah (nafsu, akal dan hati) akhirnya manusia tidak dapat dipisahkan dengan sesuatu yang disebut dengan keindahan. Dengan akal, manusia memiliki keinginan-keinginan yang menyenangkan (walaupun hanya untuk dirinya sendiri) dalam ruang renungnya, dengan akal pikiran manusia melakukan kontemplasi komprehensif guna mencari nilai-nilai, makna, manfaat, dan tujuan. Dari suatu penciptaan yang endingnya pada kepuasan, dimana kepuasan ini juga merupakan salah satu indikator dari keindahan.

Akal dan budi merupakan kekayaan manusia yang tidak dirniliki oleh makhluk lain, oleh karena itu akal dan budi manusia memiliki kehendak atau keinginan pada manusia ini tentu saja berbeda dengan “kehendak atau keinginan” pada hewan karena keduanya timbul dari sumber yang berbeda. Kehendak atau keinginan pada manusia bersumber dari akal dan budi, sedangkan kehendak atau keinginan pada hewan bersumber dari naluri. Sesuai dengan sifat kehidupan yang menjasmani dan merohani, maka kehendak atau keinginan manusia itu pun bersifat demikian. Jumlahnya tak terbatas. Tetapi jika dilihat dari segi tujuannya, satu hal sudah pasti yakni untuk menciptakan kehidupan yang menyenangkan, yang memuaskan hatinya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa “yang mampu menyenangkan atau memuaskan hati setiap manusia itu tidak lain hanyalah sesuatu yang “baik”, yang “indah”. Maka “keindahan pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia; karena dengan keindahan tu itu manusia merasa nyaman hidupnya. Melalui suasana . keindahan itu perasaan “(ke) manusia (annya)” tidak terganggu.

c)    Hubungan manusia dengan penderitaan

Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sanskerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat berupa penderitaan lahir atau batin, atau lahir batin. Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan bertingkat – tingkat, ada yang berat ada juga yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat tidaknya intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan. Banyak macam kasus penderitaan sesuai dengan lika liku kehidupan manusia, penderitaan secara fisik yang dialami manusia tentulah dapat diatasi dengan cara medis untuk mengurangi atau menyembuhkannya, sedangkan penderitan yang berwujud psikis, penyembuhannya terletak pada kemampuan si penderita dalam menyelesaikan soal-soal psikis yang dihadapinya.

Apabila kita kelompokkan secara sederhana berdasarkan sebab – sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat diperinci sebagai berikut :

  1. Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia

Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Penderitaan yang terkadang disebut nasib buruk ini dapat diperbaiki bila manusia itu mau berusaha untuk memperbaikinya.

  1. Penderitaan yang timbul karen penyakit, siksaan / azab Tuhan

Penderitaan manusia dapat juga terjadi akibat penyakit atau siksaan / azab Tuhan. Namun kesabaran, tawakal dan optimisme merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan itu.

Pengaruh Penderitaan

Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam – macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negatif. Sikap negatif misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, ingin bunuh diri. Sikap ini diungkapkan dalam peribahasa “sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”, “nasi sudah menjadi bubur”. Kelanjutan dari sikap negatif ini dapat timbul sikap anti, misalnya anti kawin atau tidak mau kawin, tidak punya gairah hidup.

d)   Hubungan manusia dengan keadilan

Keadilan, menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem itu menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak sama, maka masing-masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidak adilan.

Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama.

 

e)    Hubungan manusia dengan pandangan hidup

Dalam perjuangan menuju kehidupan yang lebih sempurna, sebagai makhluk Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Manusia memerlukan nilai-nilai atau unsur-unsur yang akan dianutnya sebagai pandangan hidup. Pandangan hidup berfungsi sebagai kerangka acuan,baik untuk menata kehiudupan diri pribadi manusia maupun berfungsi sebagai hubungan antara manusia dengan masyarakat dan alam di sekitarnya. Pandangan hidup tersebut merupakan landasan dasar untuk membentuk berbagai lembaga yang lebih penting bagi kehidupan ini.

Fungsi lembaga-lembaga yang dibentuk manusia adalah sebagai instrument, sarana, dan wahana untuk mewujudkan pandangan kehidupan adalah sekedar merupakan konsepsi yang bersifat abstrak, tanpa daya untuk mewujudkan dirinya dalam kenyataan. Sebagai makhluk sosial manusia tidaklah mungkin hidup menyendiri. Oleh karena itu, setiap manusia pribadi hidup sebagai bagian dari lingkungan sosial yang lebih luas, secara berturut-turut lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dll.

Hubungan pandangan mengenai kehidupan manusia dan masyarakat berdasarkan pada pandangan tentang manusia. Pandangan tentang manusia ini di dasarkan pada Pancasila. Dari sini dapat pula diartikan sebagai pandangan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam hubungan inilah manusia dapat hidup dan menghidupi. Manusia hidup dalam hubungan dengan Tuhannya dan dalam perlindunganNya selamanya termasuk dengan lingkungan. Dengan dan dalam kebudayaan dan serba hubungan menjadikan dunia dan lingkungan lebih menyenangkan dan menjadikan hidup lebih baik.

Konsep bangsa yang digunakan untuk merumuskan sila ketiga terutama konsep E Renan, yaitu sekelompok manusia yang mempunyai keinginan bersama untuk bersatu dan tetap mempertahankan persatuan,sedangkan factor-faktor yang mendorong manusia ingin bersatu itu bermacam-macam. Dalam hal ini apa yang digariskan oleh pasal 2 ayat (1) menegaskan bahwa Negara Indonesia ialah Negara kesatuan yang berbentuk republik.

Faktor pendorong ke arah persatuan yang ditekankan oleh WD ialah pendidikan, budaya yang diatur dalam pasal 31ayat (2) pemerintah berusaha menyelenggarakan suatu sistem penghujatan nasional yang diatur dengan undang-undang.

Norma-norma itulah yang harus di ikuti agar orang-orang Indonesia dapat hidup berbangsa sesuai dengan pancasila dan menjalankan sila 3 yang wujudkan pasal-pasal tersebut. Orang Indonesia tidak terlepas dari pasal-pasal lain. Lewat hal ini pulalah kecintaan manusia kepada Indonesia kepada bendera merah putih dan bahasa Indonesia dapat dikemukakan secara intensif.

Pandangan hidup adalah sikap manusia yang paling mendasar dalam menyikapi setiap hal yang terjadi dalam hidupnya, baik itu berupa masalah, tugas, tantangan dan segala yang dilakukannya manusia pasti mempunyai pandangannya masing – masing. Saya sebagai makhluk Tuhan yang beragama meyakini bahwa Tuhan itu ada,dan sangat berperan penting dalam kehidupan.banyak hal – hal yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat di dunia ini, karena memang hal tersebut tidak akan bisa kita pikirkan dengan pikiran kita yang terbatas.hal inilah yang kita sebut sebagai iman.banyak orang yang mempertanyakan tentang kepercayaan orang lain yang tidak bisa diterima dengan akal sehatnya. Jawabannya adalah iman.karena iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.sama halnya seperti rasa sakit, cinta, dan kasih, yang kita tidak dapat mengetahui seperti apa wujudnya, dan tidak dapat kita pikirkan dengan akal sehat tetapi kita mempercayai keberadaan hal tersebut.

Setiap manusia sudah pasti mempunyai pandangan hidup. Bagaimana kita memperlakukan pandangan hidup itu tergantung pada individu yang bersangkutan. Akan tetapi yang terpenting, kita seharusnya mempunyai langkah-langkah dalam berpandangan hidup, karena hanya dengan mempunyai langkah-langkah itulah kita dapat memperlakukan pandangan hidup sebagai sarana mencapai tujuan dan cita-cita dengan baik. Adapun langkah-langkah itu ialah : mengenal, mengerti, menghayati, meyakini, mengabdi, mengamankan.

Menurut asalnya pandangan hidup dibagi menjadi 3 yaitu :

  1. Pandangan hidup yang berasal dari agama,
  2. Pandangan hidup yang berupa ideologi, dan
  3. Pandangan hidup hasil renungan.

Pandangan hidup terdiri dari 4 unsur antara lain :

  1. Cita – Cita yang diinginkan dapat diraih dengan usaha dan perjuangan,
    1. Berbuat baik dalam segala hal dapat membuat seseorang merasa bahagia, damai, dan tentram,
    2. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi oleh keyakinan, dan
    3. Keyakinan dan kepercayaan adalah hal yang terpenting dalam hidup manusia.

Cita-cita

Kebajikan

Kebajikan atau kebaikan adalah suatu perbuatan yang mendatangkan kesenangan bagi diri sendiri maupun orang lain. Untuk dapat melihat kebajikan kita harus melihat dari 3 segi, yaitu manusia sebagai makhluk pribadi, manusia sebagai anggota masyarakat dan manusia sebagai makhluk Tuhan. Kebajikan berarti : berkata sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah tamah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang melihatnya.

Keyakinan atau kepercayaan

Keyakinan dan kepercayaan berasal dari kata yakin. Keyakinan ialah kepercayaan yang tidak berbelah lagi. Kemampuan anda dalam mengatasi segala halangan dalam hidup untuk mencapai kejayaan, banyak dipengaruhi oleh keyakinan diri anda. Ini bermakna lebih yakin anda terhadap diri anda serta masa hadapan anda, lebih terbukalah kejayaan untuk anda. terdapat 4 jenis keyakinan utama yang perlu kita miliki:

  1. Keyakinan diri terhadap Tuhan dan KeesaanNya
  2. Keyakinan terhadap diri sendiri
  3. Keyakinan diri sendiri terhadap orang lain
  4. Keyakinan orang lain terhadap diri sendiri

 

f)    Hubungan manusia dengan tanggung jawab

Manusia di dalam hidupnya disamping sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial. Di mana dalam kehidupannya di bebani tanggung jawab, mempunyai hak dan kewajiiban, dituntut pengabdian dan pengorbanan.
Tanggung jawab itu sendiri merupakan sifat yang mendasar dalam diri manusia. Selaras dengan fitrah. Tapi bisa juga tergeser oleh faktor eksternal. Setiap individu memiliki sifat ini. Ia akan semakin membaik bila kepribadian orang tersebut semakin meningkat. Ia akan selalu ada dalam diri manusia karena pada dasarnya setiap insan tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan sekitar yang menunutut kepedulian dan tanggung jawab. Inilah yang menyebabkan frekwensi tanggung jawab masing-masing individu berbeda. Tanggung jawab menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya.

Tanggung jawab timbul karena telah diterima wewenang. Tanggung jawab juga membentuk hubungan tertentu antara pemberi wewenang dan penerima wewenang. Jadi tanggung jawab seimbang dengan wewenang. Menurut WJS. Poerwodarminto, tanggung jawab adalah sesuatu yang menjadi kewajiban (keharusan) untuk dilaksanakan, dibalas dan sebagainya. Dengan demikian kalau terjadi sesuatu maka seseorang yang dibebani tanggung jawab wajib menanggung segala sesuatunya. Oleh karena itu manusia yang bertanggung jawab adalah manisia yang dapat menyatakan diri sendiri bahwa tindakannya itu baik dalam arti menurut norma umum, sebab baik menurut seseorang belum tentu baik menurut pendapat orang lain. Dengan kata lain, tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.

Tanggung jawab erat kaitannya dengan kewajiban. Kewajiban adalah sesuatu yang dibebankan terhadap seseorang. Kewajiban merupakan bandingan terhadap hak, namun dapat juga tidak mengacu kepada hak. Maka tanggung jawab manusia dalam hal ini adalah tanggung jawab terhadap kewajibannya. Setiap keadaan hidup menentukan kewajiban tertentu. Status dan peranan juga menentukan kewajiban seseorang. Ada dua bagian atau dua kewajiban yang berbeda, yang pertama yaitu kewajiban terbatas, adalah kewajiban yang tanggung jawabnya diberlakukan kepada setiap orang, sama, tidak dibeda bedakan.

Pengabdian/Pengorbanan
Manusia di dalam hidupnya selaku makhluk Tuhan selain dibebani tanggung jawab, mendapat hak dan juga mempunyai kewajiban, untuk melaksanakan hal-hal tersebut perlu pengabdian, bahkan pengorbanan. Pengertian pengabdian menurut WJS. Poerwodarminto adalah hal-hal yang berhubungan dengan mengabdi. Sedangkan mengabdi adalah suatu penyerahan diri, biasanya dilakukan dengan ikhlas, bahkan diikuti pengorbanan. Dimana pengorbanan berarti suatu pemberian untuk menyatakan kebaktian, yang dapat berupa materi,  perasaan, jiwa raga. Hakekat pengabdian adalah merupakan usaha untuk memikul tanggung jawab dan melaksanakan kewajiban sebagai manusia. (http://31107190.blogspot.com/)

 

g)   Hubungan manusia dengan kegelisahan

Selama hidupnya, manusia pasti pernah mengalami kegelisahan baik intensitasnya sering ataupun jarang, apalagi di era globalisasi seperti saat ini yang membutuhkan tingkat kompetitifitas yang tinggi untuk hidup di dalamnya. kegelisahan sendiri berasal dari kata gelisah yang berarti tidak tentram hatinya, selalu merasa khawatir,tidak senang tidak sabar, cemas sehingga kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tentram hati maupun perbuatannya, merasa khawatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan. sedangkan kita dapat mengetahui tanda tanda bahwa seseorang mengalami ketegang adalah dari tingkah lakunya. tingkah laku yang bagaimana? umumnya seorang yang sedang tegang melakukan hal- hal yang tidak biasa dia lakukan seperti berjalan mondar-mandir, duduk termenung sambil memegang kepalanya dan berbagai hal lain yang mungkin dapat membingungkan orang yang melihatnya. “Sigmon Freud”seorang ahli psikoanalisa berpendapat, bahwa ada tiga macam kecemasan yang menimpa manusia, yaitu: kecemasan kenyataan, kecemasan neoritik dan kecemasan moril

A)      Kecemasan tentang kenyataan ( objektif )

Kecemasan tentang kenyataan adalah suatu kenyataan yang pernah dialami oleh seseorang di masa lalu yang membuat orang tersebut menjadi shocked karenanya.

B)       Kecemasan Neoritis

Kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan, takut akan hal yang dibayangaknnya atau takut akan idnya sendiri sehingga menekan ego. kegelisahan ini akan membuat seseorang menjadi gelisah akan suatu hal yang buruk yang sedang di bayangkannya akan menjadi sebuah kenyataan.

C)       Kecemasan moril

Kecemasan moril sendiri disebabkan oleh pribadi seseorang dimana tiap pribadi memiliki berbagai macam emosi seperti: iri, benci, dendam,dengki,marah,gelisah.rasa kurang,cinta. rasa iri, benci,dendam merupakan sebagian dari pernyataan individu secara keseluruhan berdasarkan konsep yang kurang sehat, oleh karena itu alasan untuk iri,benci,dengki kurang dapat dipahami oleh orang lain. sifat-sifat seperti itu adalah sifat yang tidak terpuji bahkan mengakibatkan manusia merasa khawatir, takut,cemas,gelisah dan putus asa.

Apabila di kaji, sebab sebab orang gelisah adalah karena mereka takut kehilangan berbagai macam haknya seperti hak untuk hidup, hak milik, hak memperoleh perlindungan dan lain-lain. contohnya: beberapa waktu belakangan ini kita sering mendengar isu bahwa jakarta akan diguncang gempa dengan daya rusak yang setara dengan bom hiroshima pada waktu tertentu. ketika mereka mendengar berita tersebut, mereka langsung panik dan melakukan persiapan untuk mengamankan barang-barang miliknya atau membuat tenda di depan rumah dan menjudge bahwa berita tersebut benar adanya. padahal kalau kita telaah secara mendalam, tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui kapan dan dimana gempa itu akan terjadi. hal tersebut dapat terjadi karena mereka takut kehilangan beberapa haknya seperti hak untuk hidup, ak untuk mendapat perlindungan, dan lain lain. Mengatasi kegelisahan peratam-tama harus mulai dari diri kita sendiri, yaitu kita harus bersikap tenang. dengan sikap tenang kita dapat berpikir tenang, sehingga kesulitan dapat kita atasi. sedangkan cara yang paling ampuh untuk mengatasi kegelisahan adalah dengan berserah diri kepada tuhan.

Kesepian

Kesepian merupakan kondisi yang tidak menyenangkan, dan berdasarkan pengalaman berhubungan dengan tidak mencukupinya kebutuhan akan bentuk hubungan yang akrab atau intimasi (Sullivan dalam perlman & Peplau, 1982). Sermat (dalam Peplau & Perlman, 1982) berpendapat bahwa kesepian merupakan hasil dari interpretasi dan evaluasi individu terhadap hubungan sosial yang dianggap tidak memuaskan. Orang akan merasa kesepian bila intensitas hubungan social yang diharapkannya tidak sesuai atau kurang dari apa yang merupakan kenyataannya. Sedangkan Peplau dan Perlman (1982) mendifinisikan kesepian sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan, yang terjadi ketika hubungan social individu tidak berjalan sesuai yang diharapkannya.

Young (dalam Perlman & Peplau, 1982) menyatakan bahwa kesepian merupakan respon individu atas ketidakhadiran yang dirasa sangat penting dari social reinforcement. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kesepian adalah keadaan yang diakibatkan oleh perasaan tidak pernuhi kebutuhan keakraban, adanya hasil persepsi dan evaluasi hubungan social yang kurang memuaskan, dan kurang adanya reinforcement sosial. Karakteristik Kesepian Fromm-Reichman, Lopata, dan Young (dalam Yuniarti, 2002) menyebutkan karakteritik kesepian adalah sebagai berikut: tidak terpenuhinya kebutuhan akan keakraban, hasil persepsi dan evaluasi hubungan sosial yang kurang memuaskan, kurang adanya reinforcement sosial

Faktor penyebab kesepian

Menurut Middlebrook (1980), ada dua faktor penyebab dari kesepian, yaitu :

  1. Faktor Psikologis
    1. Existential Loneliness
    2. Pengalaman traumatis hilangnya orang-orang terdekat.
    3. Kurangnya dukungan dari orang lain.
    4. Adanya masalah krisis dalam diri seseorang dan kegagalan
    5. Kurangnya rasa percaya diri
    6. Kepribadian yang tidak sesuai dengan lingkungan
    7. Ketakutan menanggung resiko sosial

2.  Faktor Sosiologis

  1. Takut dikenal orang lain
  2. Nilai-nilai yang berlaku pada lingkungan sosial
  3. Kehidupan di rumah
  4. Perubahan pola-pola dalam keluarga
  5. Pindah tempat
  6. Terlalu besarnya suatu organisasi
  7. Desain arsitektur bangunan

Sadler (dalam Kirana, 2005) kesepian dapat disebabkan karena lima hal, yaitu : Interpersonal Problem,  Social Shock,  Culture Shock, Cosmic Problem,  Psychological

Ketidak pastian

Adalah sebutan yang digunakan dengan berbagai cara di sejumlah bidang, termasuk filosofifisikastatistikaekonomikakeuanganasuransipsikologisosiologiteknik, dan ilmu pengetahuan informasi. Ketidakpastian berlaku pada perkiraan masa depan hingga pengukuran fisik yang sudah ada atau yang belum diketahui.

penyebab ketidak pastian adalah tidak ada yang sama di dunia ini, dan juga kemampuan manusia yang terbatas untuk memastikan sesuatu hal yang ada, serta kekuasaan tiada batas yang dimiliki Allah SWT, dimana setiap manusia tidak akan mengetahui kehendak-Nya. Cara mengatasi ketidak pastian yang pasti bersiap-siap terlebih dahulu, merencanakan segala sesuatunya dengan matang, dan juga berdo’a agar apa yang diinginkan tercapai.

h)   Hubungan manusia dengan harapan

Harapan merupakan keinginan yang ingin dicapai oleh hati kita dan harapan pun yang membuat kita bertahan dalam menghadapi rintangan. Harapan dapat berupa harapan atas sesuatu yang tidak mungkin, harapan atas kerja keras atau bahkan harapan untuk memiliki seseorang. Dan biasanya setiap harapan pasti memiliki harga tertentu, tergantung besar kecilnya harapan tersebut.

Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan. Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Manusia wajib selalu berdoa. Karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan. Menurut kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia langusung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau anggota masyarakat lainnya. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari pergaulan hidup. Ditengah – tengah manusia lain, seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik/jasmani maupun mental/spiritualnya. Ada dua hal yang mendorong orang hidup bergaul dengan manusia lain, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.

Dalam diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawa dan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat atau hidup bersama dengan manusia lain. Dengan Kodrat ini, maka manusia mempunyai harapan. Dorongan kebutuhan hidup Sudah kodrat pula bahwa manusia mempunyai bermacam-macam kebutuhan hidup. Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusia bekerja sama dengan manusia lain. Dengan adanya dorongan kodrat atau dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai harapan. Untuk melangsungkan hidupnya manusia membutuhkan sandang pangan dan papan. Bila kita tinjau dari wujudnya harapan dapat dikatakan tidak terhingga, namun bila dilihat dari tujuannya hanya ada satu, ialah hidup bahagia. Bahagia dunia dan akhirat.

Terkait dengan kebutuhan manusia tersebut, abraham maslow mengkategorikan kebutuhan manusia menjadi 5 macam atau disebut juga 5 harapan manusia, yaitu;

  1. Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup
  2. Harapan untuk memperoleh keamanan
  3. Harapan mendapatkan hak untuk mencintai dan dicintai
  4. Harapan diterima lingkungan
  5. Harapan memperoleh perwujudan cita-cita

Harapan itu bersifat manusiawi dan dimiliki semua orang. Dalam hubungannya dengan pendidikan moral, untuk mewujudkan harapan perlu di wujudkan hal – hal sebagai berikut:

a. Harapan apa yang baik

b. Bagaimana mencapai harapan itu

c. Bagaimana bila harapan itu tidak tercapai.

Jika manusia mengingat bahwa kehidupan tidak hanya di dunia saja namun di akhirat juga, maka sudah selayaknya “harapan” manusia untuk hidup di kedua tempat tersebut bahagia. Dengan begitu manusia dapat menyelaraskan kehidupan antara dunia dan akhirat dan selalu berharap bahwa hari esok lebih baik dari pada hari ini, namun kita harus sadar bahwa harapan tidak selamanya menjadi kenyataan.

 

  1. 3.    Kraton Yogyakarta
    1. a.    Sejarah kraton Yogyakarta

Setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, Pangeran Mangkubumi diberi wilayah Yogyakarta. Kemudian untuk menjalankan pemerintahannya, Pangeran Mangkubumi membangun sebuah istana pada tahun 1755 di wilayah Hutan Beringan. Tanah ini di nilai cukup baik karena di apit oleh dua sungai, sehingga terlindung dari kemungkinan banjir. Raja pertama di Kesultanan Yogyakarta adalah Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I (HB I). Lokasi kraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri.

Karaton, Keraton atau Kraton, berasal dari kata ka-ratu-an, yang berarti tempat tinggal ratu/raja. Sedang arti lebih luas, diuraikan secara sederhana, bahwa seluruh struktur dan bangunan wilayah Kraton mengandung arti berkaitan dengan pandangan hidup Jawa yang essensial, yakni Sangkan Paraning Dumadi (dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati).

Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan. Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta. Kraton merupakan mata air peradaban yang tak pernah surut di makan waktu. Sejak berdirinya, Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat, merupakan salah satu dari empat pusat kerajaan Jawa (projo kejawen) yang merupakan pewaris sah kejayaan kebudayaan Mataram.

Para raja Mataram dan kemudian para Sultan Yogya mendapat predikat sebgai raja pinandhita dan narendra sudibyo yaitu pencipta (kreator) kebudayaan yang produktif (Purwadi 2007). Para Sultan bersama para ahli adat, melahirkan gagasan-gagasan asli tentang seni, sastra, sistem sosial, sistem ekonomi, dan seterusnya. Sri Sultan Hamengku Buwono I misalnya, melahirkan banyak karya seni dan arsitektur. Dengan Kraton sebagai pusat, masyarakat Yogya sudah berkembang menjadi sebuah sistem peradaban tersendiri sejak sebelum bergambung dengan RI (1945). Itulah yang disebut dalam Pasal 18 UUD 1945 (sebelum diamandemen) sebagai ‘’susunan asli.” Sejak Kraton berdiri, Yogya telah mempunyai sistem pemerintahan tersendiri dan telah melakukan reformasi pada tahun 1926 (reorganisasi Pangreh Praja).

Kraton sebagai pusat peradaban terlihat dari pola penyebaran kebudayaan yang memancarkan keluar secara sentrifugal. Dulu, Kraton merupakan pusat pemerintahan politis. Wilayah kekuasaan kasultanan diklasifikasi menurut konsep lapisan konsentris trimandala praja. Lapisan terdalam yang merupakan wilayah pusat kerajaan disebut nagara, merupakan ibukota kerajaan yang menjadi tempat tinggal raja dan para pejabat penting. Pusat nagara adalah Kraton. Lapisan kedua, disebut wilayah nagaragung yaitu daerah-daerah sekitar kota. Lapisan ketiga, disebut wilayah monconagoro yaitu daerah-daerah yang letaknya jauh.

Dibandingkan dengan Kraton Yogya, Republik Indonesia adalah sebuah peradaban yang masih sangat muda. Yogya turut membidani kelahiran peradaban baru itu. Ketika RI mengalami masa-masa kelahiran yang sangat kritis, Yogya memberi diri menjadi ”ibu pengasuh” dengan segala pengorbanannya. Secara politis itu sangat jelas, ibukota RI dipindah ke Yogya (sejak 1946). Kraton (Sri Sultan Hamengku Buwono IX) mengatur strategi Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk menunjukkan eksistensi RI di mata dunia dan sebagainya. Sejak awal, Yogya telah memberikan banyak nutrisi bagi pertumbuhan peradaban Indonesia. RI bagaikan bayi yang menyusu pada Yogya sebagai induk semangnya. Banyak gagasan peradaban muncul dari Yogya.

  1. b.   Arsitektur Kraton Yogyakarta

Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). Selain itu Kraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Kraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Kraton Yogyakarta.

Arsitek kepala istana ini adalah Sultan Hamengkubuwana I, pendiri Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keahliannya dalam bidang arsitektur dihargai oleh ilmuwan berkebangsaan Belanda, Theodoor Gautier Thomas Pigeaud dan Lucien Adam yang menganggapnya sebagai “arsitek” dari saudara Pakubuwono II Surakarta. Bangunan pokok dan desain dasar tata ruang dari keraton berikut desain dasar landscape kota tua Yogyakarta, diselesaikan antara tahun 1755-1756. Bangunan lain di tambahkan kemudian oleh para Sultan Yogyakarta berikutnya. Bentuk istana yang tampak sekarang ini sebagian besar merupakan hasil pemugaran dan restorasi yang dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwono VIII (bertahta tahun 1921-1939).

Dahulu bagian utama istana, dari utara keselatan, dimulai dari Gapura Gladhag di utara sampai di PlengkungNirboyo di selatan. Bagian-bagian utama kraton Yogyakarta dari utara ke selatan adalah: Gapura Gladag-Pangurakan; Kompleks Alun-alun Ler (Lapangan Utara) dan Mesjid Gedhe (Masjid Raya Kerajaan); Kompleks Pagelaran, Kompleks Siti Hinggil Ler, Kompleks Kamandhungan Ler; Kompleks Sri Manganti; Kompleks Kedhaton; Kompleks Kamagangan; Kompleks Kamandhungan Kidul; Kompleks Siti Hinggil Kidul (sekarang disebut Sasana Hinggil); serta Alun-alun Kidul (Lapangan Selatan) dan Plengkung Nirbaya yang biasa disebut Plengkung Gadhing.

Bagian-bagian sebelah utara Kedhaton dengan sebelah selatannya boleh dikatakan simetris. Sebagian besar bagunan di utara Kompleks Kedhaton menghadap arah utara dan di sebelah selatan Kompleks Kedhaton menghadap ke selatan. Di daerah Kedhaton sendiri bangunan kebanyakan menghadap timur atau barat. Namun demikian ada bangunan yang menghadap ke arah yang lain. Selain bagian-bagian utama yang berporos utara-selatan keraton juga memiliki bagian yang lain. Bagian tersebut antara lain adalah Kompleks Pracimosono, Kompleks Roto Wijayan, Kompleks Keraton Kilen, Kompleks Taman Sari, dan Kompleks Istana Putra Mahkota. Di sekeliling Kraton dan di dalamnya terdapat sistem pertahanan yang terdiri dari tembok atau dinding Cepuri dan Baluwerti. Secara umum tiap kompleks utama terdiri dari halaman yang ditutupi dengan pasir dari pantai selatan, bangunan utama serta pendamping, dan kadang ditanami pohon tertentu. Kompleks satu dengan yang lain dipisahkan oleh tembok yang cukup tinggi dan dihubungkan dengan Regol yang biasanya bergaya Semar Tinandu. Daun pintu terbuat dari kayu jati yang tebal. Di belakang atau di muka setiap gerbang biasanya terdapat dinding penyekat yang disebut Renteng atau Baturono.

Bangunan-bangunan Keraton Yogyakarta lebih terlihat bergaya arsitektur Jawa tradisional. Di beberapa bagian tertentu terlihat sentuhan dari budaya asing seperti Portugis, Belanda, bahkan Cina. Bangunan di tiap kompleks biasanya berbentuk Joglo. Joglo terbuka tanpa dinding disebut dengan Bangsal sedangkan joglo tertutup dinding dinamakan Gedhong (gedung). Selain itu ada bangunan yang berupa kanopi beratap bambu dan bertiang bambu yang disebut Tratag. Pada perkembangannya bangunan ini beratap seng dan bertiang besi.

Permukaan atap joglo berupa trapesium. Bahannya terbuat dari sirap, genting tanah, maupun seng dan biasanya berwarna merah atau kelabu. Atap tersebut ditopang oleh tiang utama yang di sebut dengan Soko Guru yang berada di tengah bangunan, serta tiang-tiang lainnya. Tiang-tiang bangunan biasanya berwarna hijau gelap atau hitam dengan ornamen berwarna kuning, hijau muda, merah, dan emas maupun yang lain. Untuk bagian bangunan lainnya yang terbuat dari kayu memiliki warna senada dengan warna pada tiang. Pada bangunan tertentu (misal Manguntur Tangkil) memiliki ornamen Putri Mirong, stilasi dari kaligrafi Allah, Muhammad, dan Alif Lam Mim Ra, di tengah tiangnya.

 

  1. c.    Fungsi Kraton Yogyakarta

Fungsi Keraton dibagi menjadi dua yaitu fungsi Keraton pada masa lalu dan fungsi Keraton pada masa kini. Pada masa lalu keraton berfungsi sebagai tempat tinggal para raja. Keraton didirikan pada tahun 1755, selain itu di bagian selatan dari Keraton Yogyakarta, terdapat komplek kesatriaan yang digunakan sebagai sekolah putra-putra sultan. Sekolah mereka dipisahkan dari sekolah rakyat karena memang sudah merupakan aturan pada Keraton bahwa putra- putra sultan tidak diperbolehkan bersekolah di sekolah yang sama dengan rakyat. Sementara itu, fungsi Keraton pada masa kini adalah sebagai tempat wisata yang dapat dikunjungi oleh siapapun baik turis domestik maupun mancanegara. Selain sebagai tempat untuk berwisata, tidak terlupakan pula fungsi Keraton yang bertahan dari dulu sampai sekarang yaitu sebagai tempat tinggal sultan. Pada saat kita akan memasuki halaman kedua dari Keraton, terdapat gerbang dimana di depannya terdapat dua buah arca. Setiap arca ini memiliki arti yang berlawanan. Arca yang berada di sebelah kanan disebut Cingkorobolo yang melambangkan kebaikan, sementara itu arca yang terletak di sebelah kiri disebut Boloupotu yang melambangkan kejahatan. Selain itu kami juga mendapatkan sedikit informasi tentang Sultan Hamengku Buwono IX. Sultan ke IX dari Keraton Yogyakarta ini lahir pada tanggal 12 April 1940 dan wafat dalam usianya yang ke 48 yaitu pada tanggal 3 Oktober 1988. Ia memiliki berbagai macam hobi, diantaranya adalah menari, mendalang, memainkan wayang, dan yang terakhir memotret. Sultan ini memiliki suatu semboyan yang sangat terkenal yaitu, “Tahta untuk rakyat”

  1. 4.    Makna budaya

Ada dua unsur yang penting dan saling terkait dalam proses pemberian makna budaya, yaitu penentuan unsur-unsur yang menjadikan tempat itu penting serta nilai penting atau makna budaya itu sendiri di masyarakat. Makna budaya adalah sesuatu yang memiliki nilai ‘estetis, bersejarah, ilmiah, atau nilai sosial untuk masa lampau, sekarang, dan masa depan’. Untuk menilai makna estetis tentu saja dibutuhkan panduan dari pakarnya. Hal lainya berkaitan dengan menaksir nilai ini adalah penjelasan tentang nilai-nilai lainnya berupa nilai arsitektural, nilai sejarah, nilai pengetahuan, dan nilai sosial. Oleh karena itu penulis disini hanya akan memberikan makna berdasarkan pemahaman terbatas dari penuilis berdasarkan apa yang dilihat, dicatatat, dari cerita petugas di kraton Yogyakarta dan sebagian diperoleh dari sumber diluar lingkungan Kraton yang dirasa membantu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

  1. A.      Wujud Budaya

Kebudayaan memiliki 3 wujud, yakni ide, perilaku, dan artefak. Ketiga wujud kebudayaan tersebut tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat, dimana ide menghasilkan perilaku atau tindakan dan karya manusia (artefak). Kemudian ide-ide, tindakan dan karya menghasilkan benda-benda kebudayaan. Selain memiliki 3 wujud, kebudayaan juga mempunyai 7 unsur universal, yaitu bahasa, kesenian, religi, sistem teknologi, sistem sosial, sistem pengetahuan, dan sistem mata pencaharian hidup.

Salah satu benda-benda kebudayaan adalah bangunan tradisional, dalam hal ini kita ambil kraton Yogyakarta, dimana bangunan tradisional kraton Yogyakarta dipandang sebagai suatu identitas dari kebudayaan daerah maupun kebudayaan nasional, karena pada bangunan kraton Yogyakarta terdapat ornamen-ornamen atau hiasan yang ada dan menghiasi bangunan tersebut. Mengacu pada penjabaran 7 unsur budaya universal, maka ornament tersebut dapat dikatakan sebagai perwujudan budaya. Yaitu unsur kesenian, sistem teknologi, dan religi. Wujud kebudayaan yang terdapat dalam kraton Yogyakarta jumlahnya hamper tidak bisa dihitung oleh jari, oleh karena itu wujud budaya yang dipaparkan disini hanya sebatas pemahaman dan pengetahuan penulis. Berikut adalah wujud kebudayaan yang terdapat pada kraton Yogyakarta:

Menurut guide, bangunan kraton Yogyakarta kurang lebih memiliki tujuh balai atau disebut bangsal. Masing-masing bangsal dibatasi pintu masuk atau disebut regol. Keenam regol adalah Regol Brojonolo, Sri Manganti, Danapratopo, Kemagangan, Gadungmlati, dan Kemandungan. Kraton diapit dua alun-alun yaitu Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan.

  1. Gerbang utama untuk masuk ke dalam kompleks Keraton Yogyakarta dari arah utara adalah Gapura Pangurakan yang terletak persis beberapa meter di sebelah selatannya.  Gerbang ini tampak seperti pertahanan yang berlapis. Pada zamannya konon Pangurakan merupakan tempat penyerahan suatu daftar jaga atau tempat pengusiran dari kota bagi mereka yang mendapat hukuman pengasingan atau pembuangan. Di luar gerbang yang mempunyai empat penyangga utama atau yang disebut saka guru ini sekarang terdapat banyak aktivitas masyarakat, dari penarik becak, penjual minuman dan lain-lain.
  2. Alun-alun Lor adalah sebuah lapangan berumput di bagian utara Keraton Yogyakarta. Menurut ceritanya, dulu tanah lapang yang berbentuk persegi ini dikelilingi oleh dinding pagar yang cukup tinggi dan saat ini alun-alun dipersempit, hanya bagian tengahnya saja yang tampak. Di bagian pinggir sudah dibuat jalan beraspal yang dibuka untuk umum. Di sebelah utara terdapat perpustakaan museum sonobudoyo, dimana disitu disimpan banyak naskah berumur tua. Museum ini terbuka untuk umum, namun karena menjaga kualitas dan keawetan koleksi museum tak segan sang penjaga sering menegur secara keras. Pada bagian tengah alun-alun terdapat dua buah pohon beringin, yang konon apabila kita bias melewati atau berjalan ditengah-tengah kedua pohon tersebut dengan mata terpejam sebanyak 3 kali, maka keinginan kita akan tercapai. Dewasa kini fungi alun-alun utara menjadi tempat berkumpulnya anak muda, tempat mengadakan konser musik, area parker kendaraan bermotor, bermain sepak bola, kampanye dan lain-lain. Salah satu acara yang terjadi ditahun 2009 di alun-alun utara adalah pisowanan agung atau pisowanan ageng, yaitu rakyat dan pejabat dating menghadap raja sebagai bentuk kesetiaan. Pisowanan ageng memperlihatkan sebuah cermin yang memperlihatkan bentuk-bentuk nilai demokrasi dalam budaya lokal.
  3. Kompleks Mesjid Gedhe Kasultanan (Masjid Raya Kesultanan) atau Masjid Besar Yogyakarta terletak di sebelah barat kompleks Alun-alun utara. Kompleks yang juga disebut dengan Mesjid Gedhe Kauman. Untuk masuk ke dalam terdapat pintu utama di sisi timur dan utara.
    1. Bangunan utama adalah Bangsal Pagelaran yang dahulu dikenal dengan nama Tratag Rambat. Sering digunakan untuk even-even pariwisata, religi, dan lain-lain disamping untuk upacara adat keraton. Sepasang Bangsal Pemandengan terletak di sisi jauh sebelah timur dan barat Pagelaran. Disebelah timur sebelah selatan terdapat ruang untuk karawitan. Saat ini di sisi selatan kompleks ini dihiasi dengan relief perjuangan Sultan HB I dan Sultan HB IX. Kompleks Pagelaran ini pernah digunakan oleh Universitas Gadjah Mada sebelum memiliki kampus di Bulak Sumur.
    2. Siti Hinggil. Kompleks Siti Hinggil secara tradisi digunakan untuk menyelenggarakan upacara-upacara resmi kerajaan. Tempat ini digunakan untuk peresmian Universitas Gadjah Mada. Kompleks ini dibuat lebih tinggi dari tanah di sekitarnya dengan dua jenjang untuk naik berada di sisi utara dan selatan. Di antara Pagelaran dan Siti Hinggil ditanami deretan pohon Gayam. Di kanan dan kiri ujung bawah jenjang utara Siti Hinggil terdapat dua Bangsal. Bangunan Tarub Agung terletak tepat di ujung atas jenjang utara. Bangunan ini berbentuk kanopi persegi dengan empat tiang, tempat para pembesar transit menunggu rombongannya masuk ke bagian dalam istana. Di timur laut dan barat laut Tarub Agung terdapat Bangsal Kori. Di tempat ini dahulu bertugas abdi-Dalem Kori dan abdi-Dalem Jaksa yang fungsinya untuk menyampaikan permohonan maupun pengaduan rakyat kepada Sultan.
      1. Di selatan Siti Hinggil terdapat lorong yang membujur ke arah timur-barat. Dinding selatan lorong merupakan dinding Cepuri dan terdapat sebuah gerbang besar, Regol Brojonolo, sebagai penghubung Siti Hinggil dengan Kamandhungan. Di sebelah timur dan barat sisi selatan gerbang terdapat pos penjagaan. Gerbang ini hanya dibuka pada saat acara resmi kerajaan dan di hari-hari lain selalu dalam keadaan tertutup. Untuk masuk ke kompleks Kamandhungan sekaligus kompleks dalam Keraton sehari-hari melalui pintu Gapura Keben di sisi timur dan barat kompleks ini yang masing-masing menjadi pintu masing-masing ke jalan Kemitbumen dan Rotowijayan.
      2. Kompleks Kamandhungan lor atau ler sering disebut Keben karena di halamannya ditanami pohon Keben. Bangsal Ponconiti yang berada ditengah-tengah halaman merupakan bangunan utama di kompleks ini. Dahulu (kira-kira sampai 1812) bangsal ini digunakan untuk mengadili perkara dengan ancaman hukuman mati dengan Sultan sendiri yang yang memimpin pengadilan. Versi lain mengatakan digunakan untuk mengadili semua perkara yang berhubungan dengan keluarga kerajaan. Kini bangsal ini digunakan dalam acara adat seperti garebeg dan sekaten. Di selatan bangsal Ponconiti terdapat kanopi besar untuk menurunkan para tamu dari kendaraan mereka yang dinamakan Bale Antiwahana. Selain kedua bangunan tersebut terdapat beberapa bangunan lainnya di tempat ini.
      3. Kompleks Sri Manganti terletak di sebelah selatan kompleks Kamandhungan Ler dan dihubungkan oleh Regol Sri Manganti. Pada dinding penyekat terdapat hiasan Makara raksasa. Sekarang di lokasi ini ditempatkan beberapa pusaka keraton yang berupa alat musik gamelan. Selain itu juga difungsikan untuk penyelenggaraan even pariwisata keraton. Bangsal Traju Mas yang berada di sisi timur dahulu menjadi tempat para pejabat kerajaan saat mendampingi Sultan dalam menyambut tamu. Versi lain mengatakan kemungkinan tempat ini menjadi balai pengadilan. Tempat ini digunakan untuk menempatkan beberapa pusaka yang antara lain berupa tandu dan meja hias. Bangsal ini pernah runtuh pada 27 Mei 2006 akibat gempa bumi yang mengguncang DIY dan Jawa Tengah. Setelah proses restorasi yang memakan waktu yang lama akhirnya pada awal tahun 2010 bangunan ini telah berdiri lagi di tempatnya. Di sebelah timur bangsal ini terdapat dua pucuk meriam buatan Sultan HB II yang mengapit sebuah prasasti berbahasa dan berhuruf Cina. Di sebelah timurnya berdiri Gedhong Parentah Hageng Karaton, gedung Administrasi Tinggi Istana. Selain itu di halaman ini terdapat bangsal Pecaosan Jaksa, bangsal Pecaosan Prajurit, bangsal Pecaosan Dhalang dan bangunan lainnya. Sri Manganti juga menjadi nama salah satu hotel yang terdapat di Yogyakarta.
      4. Kedhaton merupakan inti dari Keraton. Halamannya kebanyakan dirindangi oleh pohon Sawo kecik. Kompleks ini setidaknya dapat dibagi menjadi tiga bagian halaman. Bagian pertama adalah Pelataran Kedhaton dan merupakan bagian Sultan. Bagian selanjutnya adalah Keputren yang merupakan bagian istri (para istri) dan para puteri Sultan. Bagian terakhir adalah Kesatriyan, merupakan bagian putra-putra Sultan. Di kompleks ini tidak semua bangunan maupun bagiannya terbuka untuk umum, terutama dari bangsal Kencono ke arah barat. Di bagian Pelataran Kedhaton, Bangsal Kencono (Golden Pavilion) yang menghadap ke timur merupakan balairung utama istana. Di tempat ini dilaksanakan berbagai upacara untuk keluarga kerajaan di samping untuk upacara kenegaraan. Di keempat sisi bangunan ini terdapat Tratag Bangsal Kencana yang dahulu digunakan untuk latihan menari.
      5. Di sisi selatan kompleks Kedhaton terdapat Regol Kamagangan yang menghubungkan kompleks Kedhaton dengan kompleks Kemagangan. Gerbang ini begitu penting karena di dinding penyekat sebelah utara terdapat patung dua ekor ular yang menggambarkan tahun berdirinya Keraton Yogyakarta. Di sisi selatannya pun terdapat dua ekor ular di kanan dan kiri gerbang yang menggambarkan tahun yang sama.
      6. Alun-alun Kidul (Selatan) adalah alun-alun di bagian Selatan Keraton Yogyakarta. Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki lima gapura, satu buah di sisi selatan serta di sisi timur dan barat masing-masing dua buah. Di antara gapura utara dan selatan di sisi barat terdapat sebuah kandang untuk memelihara gajah milik Sultan. Di sekeliling alun-alun ditanami pohon mangga, pakel, dan kuini. Pohon beringin hanya terdapat dua pasang. Sepasang di tengah alun-alun yang dinamakan Supit Urang (capit udang) dan sepasang lagi di kanan-kiri gapura sisi selatan.
      7. 12.    Plengkung Nirbaya merupakan ujung selatan poros utama keraton. Gerbang ini secara tradisi digunakan sebagai rute keluar untuk prosesi panjang pemakaman Sultan ke Imogiri. Untuk alasan inilah tempat ini kemudian menjadi tertutup bagi Sultan yang sedang bertahta.

 

  1. B.       Unsur-unsur Kemanusiaan Secara Simbolik
    1. Kraton dan hubungan manusia dengan keindahan

Banyak ornamen-ornamen yang terdapat pada bangunan kraton Yogyakarta, hal ini menunjukan bukti bahwa kraton Yogyakarta memiliki unsur simbolik tentang keindahan yang ada pada dinding kraton dan bangunan kraton. Kemudian hubungan lain antara manusia dengan keindahan terlihat pada keselarasan dan keteraturan bangunan kraton. Tiap bangunan kraton mempunyai makna dan fungsi tersendiri. Kaindahan juga Nampak pada alam yang mengelilingi kraton dimana dapat kita lihat tata letak bangunan kraton yang terlihat sangat teratur. Kraton masih konsisten untuk mengadakan upacara-upacara dan melaksanakan tradisi kebudayaan Jawa, keindahan dari budaya Jawa dapat kita lihat tiap kali kraton mengadakan kegiatan atau upacara kebudayaan. Bahasa yang dipergunakan dalam sebagian bangunan kraton adalah karma inggil bagongan, hal ini menunjukan keindahan masyarakat dalam hal berbahsa. Selain itu busana yang dikenakan oleh masyarakat lingkungan kraton juga melambangkan nilai keindahan tersendiri.

  1. Kraton dan hubungan manusia dengan keadilan

Dalam hubungannya dengan keadilan, pada zaman dahulu kraton menerapkan sistem pengasingan atau pengusiran bagi masyarakat atau seseorang yang dianggap melakukan kegiatan kejahatan, dengan cara diusir dari depan gapura pangurakan. Hal ini memperlihatkan keadilan kraton dalam hal menjaga dan memberikan kenyamanan pada setiap anggota masyarakat. Dewasa kini, keadilan tersebut dapat kita lihat dalam kehidupan keseharian dilingkungan kraton Yogyakarta yakni masyarakat bebas untuk mencari dan memperoleh panghasilan dari jasa yang mereka berikan dilingkungan kraton, adanya penjual makanan, tukang parker, tukang becak, pemandu wisata dan lain-lain memperlihatkan bahwa kraton memberikan kebebasan dan keadilan pada masyarakat untuk memperoleh uang atau mendapatkan pekerjaannya.

  1. Kraton dan hubungan manusia dengan pandangan hidup

Unsur-unsur kemanusiaan yang terdapat dalam Kraton Yogyakarta dalam hubungannya dengan pandangan hidup antara lain, bila kita memasuki area kraton Yogyakarta, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk menjaga tingkah laku, berbuat bertutur dan bertindak sopan, hal tersebut merupakan salah satu tindakan kebajikan yang merupakan salah satu wujud dari pandangan hidup. Masyarakat lingkungan kraton menjunjung tinggi dan menghormati keluarga kraton, hal ini dikarenakan mereka memiliki ikatan kuat dalam hal batin mereka dan pandangan hidup mereka berupa ideologi bahwa Sultan adalah wali Tuhan yang diturunkan kebumi, jadi sudah selayaknya mereka menghormati. Dalam kraton memiliki norma-norma yang masih dijaga dan dilaksanakan, norma-norma tersebut merupakan hasil dari pandangan hidup mereka mengenai hubungan antar manusia dalam dunia.

  1. Kraton dan hubungan manusia dengan tanggung jawab

Manusia di dalam hidupnya disamping sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial. Di mana dalam kehidupannya di bebani tanggung jawab, mempunyai hak dan kewajiiban, dituntut pengabdian dan pengorbanan. Unsur kemanusiaan yang terdapat dalam kraton sebagai lambang hubungan manusia dengan tanggung jawabnya, terlihat dari adanya masjid gede disekitar alun-alun utara, hal ini melambangkan bagaimana tanggung jawab kita pada sang pencipta. Setiap masyarakat kraton menjaga dan melestarikan kebudayaan mereka, hal ini merupakan bentuk tanggung jawab terhadap bangsa dan Negara yang diwujudkan dalam bentuk melestarikan budaya Jawa yang ada dalam kraton. Masyarakat dilingkungan kraton sebagian ada yang menggantungkan hidupnya dari kraton, hal ini merupakan salah satu wujud hubungan kraton dengan manusia dalam hal tanggung jawab pada diri sendiri yaitu untuk memperoleh makan.

 

  1. C.      Apresiasi Terhadap Kraton Yogyakarta

Kraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya yang tidak ternilai harganya, baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika banyak nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Kraton Yogyakarta yang sangat menarik wisatawan dalam maupun luar negeri, sekaligus menjadi pusat studi dunia. Kraton Yogyakarta menjadi tempat yang cocok untuk belajar dan melihat kekayaan budaya Jawa yang masih terus dijaga dan dilestarikan sampai sekarang.

Denyut sendi kehidupan yang ada di dalam kraton memberikan kita pembelajaran bahwa, dikraton terdapat banyak kehidupan sosial masyarakat, banyak masyarakat yang hidup nya bergantung pada kraton, contohnya pemandu wisata, penjual jasa, pedagang sekitar kraton, penarik becak, dan lain-lain. Sehingga dapat dikatakan kraton menghidupi masyarakat dan kelangsungan hidup mereka tergantung pula pada kelangsungan kraton.

Struktur bangunan atau arsitektur kraton yang sangat rumit dengan segala macam ornamennya memberikan kita kebanggaan tersendiri yakni bahwa pendahulu kita, nenek moyang kita ternyata telah mempunyai kebudayaan yang tinggi dan dapat dibanggakan pada dunia luar. Sehingga diharapkan kita tidak lagi malu untuk memamerkan kebudayaan yang kita miliki. Kraton Yogyakarta memiliki nilai budaya yang sangat tinggi, dimana kraton mengatur semua hal yang menjadi pedoman masyarakat Jawa dalam bertindak atau bermasyarakat. Kraton Yogyakarta memberikan contoh bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan (adanya masjid gede disekitar alun-alun utara), hubungan masyarakat dengan masyarakat lain dan hubungan antara masyarakat dengan pemimpinnya.

Dari kesemuanya itu dapat penulis katakana bahwa nilai kraton Yogyakarta tidak dapat dikatakan dengan kata apapun, dan tidak dapat dihargai dengan bentuk apapun. Bangunan serta kebudayaan yang ada dalam kraton Yogyakarta mencerminkan masyarakat Jawa yang masih memegang teguh pendirian dan kelestarian budayanya.

BAB III

PENUTUP

  1. A.      Kesimpulan

Semua perubahan yang terjadi banyak berakibat dari kebudayaan yang datang silih berganti dari setiap Negara yang menghampiri Indonesia. Kraton Yogyakarta merupakan contoh nyata bagaimana perubahan budaya tidak terlalu berpengaruh besar pada budaya kraton dari masa ke masa. Kraton Yogyakarta terus mempertahankan budayanya, ditengah arus perubahan yang kian terasa.

Kraton Yogyakarta merupakan salah satu warisan Budaya di Indonesia, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Letak Kraton Yogyakarta yaitu terletak di pusat kota Yogyakarta. Dari utara ke selatan area Kraton berturut-turut terdapat Alun-Alun Utara, Siti Hinggil Utara, Kemandhungan Utara, Srimanganti, Kedhaton, Kemagangan, Kemandhungan Selatan, Siti Hinggil Selatan dan Alun-Alun Selatan. Kraton Yogyakarta sampai dengan saat ini juga merupakan salah satu lokasi tujuan wisata di kota Yoggyakarta.

Bagi para wisatawan kraton Yogyakarta menyajikan berbagai macam benda peniggalan sejarah, seperti keris, gamelan, senjata, dll. Selain itu Kraton Yogyakarta juga menyajikan kesenian tradisonal yaitu menyanyikan lagu-lagu canpursari dengan diiringi gamelan tradisional. Tidak hanya itu, para wisatawan juga dapat megelilingi kraton Yogyakarta dan melihat bangunan-bangunan sejarah penigglan zaman dahulu, yang sampai saat ini tetap berdiri kokoh. Kraton Yogyakarta juga memilki upacara-upacara adat di setiap ttahunnya. Salah satu diantaranya adalah upacara adat grebegan, yaitu merupakan upacara adat yang diadakan sebagai kewajiban sultan untuk menyebarkan dan melindungi agama Islam.

  1. B.       Saran

Saran saya perlu ditanamkan pada anak untuk mencintai produk dalam negeri serta membuat suatu karya hasil tangan yang diproduksi dari bahan alami yang ada di Indonesia. Banyak membuat acara lomba-lomba designer kebaya modern sehingga remaja tidak lagi terkesan kuno akan dengan pakaian khas bangsanya sendiri jusru dengan memakai kebaya bangga akan negaranya sendiri. Selain itu pemerintah memberikan penghargaan bagi anak-anak yang berprestasi dalam segala bidang terutama yang berhasil membawa nama Indonesia dihadapan Dunia, karena akan memicu semangat para penerus bangsa untuk berjuang demi negaranya serta merasa lebih merasa dihargai oleh Negara dan pemerintah.

Adanya peran pemerintah untuk membatasi atau menyaring budaya yang masuk selain itu peran pendidikan yang memupuk rasa nasionalisme dan menjaga budaya bangsa yang telah turun menurun. Selain itu peran keluarga yang membentuk suatu karakter anak agar tetap mempunyai nilai-nilai norma budaya yang masih kental walaupun sudah banyak dipengaruhi oleh budaya luar yang bertolak belakang dengan budaya ke Timuran. Semua kembali pada kesadaran individu serta lingkungan sekitarnya.

  1. C.      Kritik dan Masukan Terhadap Pelaksanaan Kuliah Apresiasi Budaya

Kebanyakan (termasuk materi saya sendiri) hanya berkutat pada masalah pengertian dan dasar, karena waktu yang terbatas pada ahirnya Dosen juga kurang dalam memberikan penjelasan materi tambahan. Alangkah lebih baiknya untuk kedepannya kelompok pemresentasi dipersempit menjadi beberapa kelompok saja, sehingga Dosen mempunyai waktu lebih untuk menambah dan memberikan penjelasan materi yang lebih mendalam.

Keaktifan mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan dirasa cukup bagus, namun untuk lebih mengaktifkan lagi, saya rasa perlu memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan mereka melalui tulisan, karena kadang mahasiswa merasa malu untuk mengungkapkan pendapatnya sehingga saya merasa cara ini masih cukup relevan. Tulisan yang mereka buat kemudian dibahas oleh Dosen pengampu mata kuliah.

 

Daftar Pustaka

 

Setiadi, Elly M, dkk. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta : Kencana.

http://id.shvoong.com/books/1873149-keraton-yogyakarta/ diakses pada tanggal 24 Januari 2011. Pukul 11.06 Wib

http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya diakses pada tanggal 23 Desember 2011. Pukul 23.50 Wib

http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Yogyakarta diakses pada tanggal 23 Desember 2011. Pukul 23.55 Wib

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s