Makalah Kraton Yogyakarta

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      Latar Belakang

Perkembangan zaman lambat laun telah menggerus kebudayaan daerah yang kita miliki. Bukan hanya masyarakat yang tinggal diperkotaan saja, namun hampir semua masyarakat dari seluruh lapisan semakin lupa atau bahkan tidak mengenal akan keberadaan kebudayaan daerah mereka sendiri. Hal itu sedikit banyak disebabkan oleh pengaruh budaya asing terutama budaya barat, yang salah satunya masuk melalui perkembangan teknologi. Namun kita tidak perlu berkecil hati, karena setidaknya kita masih memiliki Kraton Yogyakarta, yang mampu menjaga budaya-budaya leluhur dengan keaslian bangunannya yang kental dengan nuansa jawa. Dengan adanya Keraton Yogyakarta budaya bangsa dapat lestari untuk dibanggakan pada dunia luar.

Kraton Yogyakarta memiliki berbagai macam benda hasil kebudayaan yang dapat kita lihat dengan cara mengelilingi dan melihat-lihat kraton Yogyakarta beserta bangunan-bangunan peninggalan zaman dahulu, yang sampai saat ini tetap berdiri kokoh. Kraton Yogyakarta, seakan identik dengan unsur kebudayaan Jawa, bahkan bisa di bilang merupakan pusat dari kebudayaan di Jawa. Kraton Yogyakarta dengan segala kekhasan budaya Jawa nya, memiliki arti simbolik di setiap bangunannya. Kraton Yogyakarta yang telah berganti pemimpinnya mulai dari Sri Sultan Hambengkubuwana I sampai X, memiliki sejarah yang cukup panjang yang perlu kita ketahui dan pelajari. Hal ini dikarenakan tidak sedikit dari kita yang tidak atau kurang memahami dan mengetahui apa sajakah bentuk kebudayaan yang ada di kraton Yogyakarta, bahkan sebagian orang beranggapan bahwa kraton tidak lebih dari sekedar tempat tinggal Sri Sultan Hamengkubuwono.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka makalah ini disusun, dengan harapan melalui makalah ini, kita dapat mengetahui aspek kebudayaan yang terdapat dalam kraton Yogyakarta, karena sebagai orang Jawa kita harus mampu memperdalam wawasan kebudayaan Jawa sekaligus merawatnya hingga dapat memperkaya kebudayaan daerah bahkan kebudayaan nasional. Serta dengan memahami dan mempelajari kebudayaan yang masih ada di kraton Yogyakarta, kita dapat menilai dan mengambil sisi baiknya untuk kemudian dipraktekan dalam kehidupan bermasyarakat.

  1. B.       Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah laporan praktek kuliah lapangan ini selain sebagai tugas mata kuliah apresiasi budaya, juga memiliki tujuan lain, yaitu:

  1. Memeperdalam wawasan tentang kebudayaan yang ada di kraton Yogyakarta?
  2. Dapat menyebutkan dan menjelaskan wujud-wujud budaya yang terdapat dalam kraton Yogyakarta?
  3. Dapat mendeskripsikan makna wujud budaya yang ada dalam kraton Yogyakarta?

 

  1. C.      Manfaat Penulisan

Hasil dari penulisan makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat yang secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

  1. Manfaat teoritik
    1. Tercapainya tujuan penulisan di atas, akan dapat memberikan penjelasan tambahan mengenai kraton Yogyakarta.
    2. Secara umum, penulisan makalah ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan wawasan kita. Secara khusus diharapkan dapat menambah wawasan kita dalam dunia pendidikan, mengenai wujud kebudayaan, dan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan pengetahuan tambahan tentang wujud, makna dan unsur kebudayaan yang terdapat dalam kraton Yogyakarta, khususnya bagi pembaca.
    3. Manfaat praktis
      1. Bagi Penulis

Penulisan makalah ini menjadi bentuk penerapan dari ilmu yang telah di peroleh diperkuliahan, serta memberikan penambahan pemahaman tentang budaya dalam kraton Yogyakarta.

  1. Bagi Mahasiswa

Hasil penyusunan makalah ini semoga memberikan tambahan pemahaman dan masukan mengenai kebudayaan.

BAB II

KAJIAN TEORI

  1. 1.    Wujud Budaya

Menurut Tylor (dalam Nyoman Kutha, 2005: 5) kebudayaan adalah keseluruhan aktivitas manusia, termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan lain. Sedangkan pengertian kata wujud adalah rupa dan bentuk yang dapat di raba, adanya sesuatu, benda yang nyata.

Menurut J.J. Hoenigman (dalam Koentjaraningrat, 2000), wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga, yaitu : gagasan, aktivitas, dan artefak. Kemudian Elly M.Setiadi dkk (2007:29-30) memberikan penjelasannya sebagai berikut :

1)   Wujud Ide

Wujud tersebut menunjukann wujud ide dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tak dapat diraba, dipegang ataupun difoto, dan tempatnya ada di alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. Budaya idea mempunyai fungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tindakan, kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai sopan santun. Kebudayaan ideal ini bisa juga disebut adat istiadat.

2)   Wujud perilaku

Wujud sering dinamakan sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia atau mayarakat itu sendiri. Wujud ini bisa diobservasi, di foto dan didokumentasikan karena dalam sistem ssosial ini terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi dan berhubungan serta bergaul satu dengan lainnya dalam masyarakat. Bersifat konkret dalam wujud perilaku dan bahasa.

3)   Wujud Artefak

Wujud ini disebut juga kebudayaan fisik, dimana seluruhnya merupakan hasil fisik. Sifatnya paling konkret dan bisa diraba, dilihat dan didokumentasikan. Contohnya : candi, bangunan, baju, kain komputer dll.

  1. 2.    Unsur-unsur kemanusiaan

Unsur-unsur kemanusiaan yang dibahas ada 8, yakni : hubungan manusia dengan cinta kasih, hubungan manusia dengan keindahan, hubungan manusia dengan penderitaan, hubungan manusia dengan keadilan, hubungan manusia dengan pandangan hidup, hubungan manusia dengan tanggung jawab, hubungan manusia dengan kegelisahan, dan hubungan manusia dengan harapan.

a)   Hubungan manusia dengan cinta kasih

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI, Balai Pustaka, 1996 ), cinta adalah rasa sangat suka ( kepada ) atau rasa sayang ( kepada ), ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih, artinya perasaan sayang atau cinta ( kepada ) atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian, arti cinta dan kasih itu hampir sama sehingga kata kasih dapat dikatakan lebih memperkuat rasa cinta. Oleh karena itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka ( sayang ) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.

Rasa cinta dan sayang adalah pemberian Tuhan kepada hambanya, karena adanya sayang dan cinta mungkin dunia ini akan begitu indah karena penghuninya memliki rasa diantara rasa yang sangat mulia. Munculnya cinta dan sayang bukan karena tanpa sebab, semua itu mungkin sudah direncanakan olehNya. Antara sayang dan cinta siapa saja pasti sudah bisa merasakan betapa indah, nikmat tentunya banyak yang di buat bahagia atasnya. Tapi juga dampak dari rasa sayang dan cinta mungkin banyak yang bilang sakit dan trauma bahkan sangat benci karena mengenalnya. Karena adanya cinta tiap manusia tentu bisa mengerti hal-hal yang mungkin akan efek dari kedua hal ini. Untuk memiliki cinta ini butuh tahap karena pada hakikatnya semua orang pingin mendapatkan cinta suci yang tinggi nilainya.

b)   Hubungan manusia dengan keindahan

Keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, (meskipun tidak semua hasil seni indah, pemandangan alam (pantai, pegunungan, danau, bunga-bunga di lereng gunung), manusia (wajah, mata, bibir, hidung, rambut, kaki, tubuh), rumah (halaman, tanaman, perabot rumah tangga dan sebagainya), suara, warna dan sebagainya. Keindahan adalah identik dengan kebenaran, selain itu menurut luasnya dibedakan pengertian:

  1. Keindahan dalam arti luas

Keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan. Misalnya Plato menyebut watak yang indah dan hukum yang indah, keindahan merupakan sesuatu yang baik dan juga menyenangkan. Jadi pengertian yang seluas-Iuasnya meliputi : · keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, keindahan intelektual.

  1. Keindahan alam arti estetik murni.

Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya.

  1. Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan

Keindahan dalam arti yang terbatas, mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna. keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebalikan dari garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara benda itu dengan si pengarnat. Nilai estetik Dalam rangka teori umum tentang nilai menjelaskan bahwa, pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomi, nilai pendidikan, dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetik.

Hubungan manusia dan keindahan

Manusia memiliki lima komponen yang secara otomatis dimiliki ketika manusia tesebut dilahirkan. Ke-lima komponen tersebut adalah nafsu, akal, hati, ruh, dan sirri (rahasia ilahi). Dengan modal yang telah diberikan kepada manusia itulah (nafsu, akal dan hati) akhirnya manusia tidak dapat dipisahkan dengan sesuatu yang disebut dengan keindahan. Dengan akal, manusia memiliki keinginan-keinginan yang menyenangkan (walaupun hanya untuk dirinya sendiri) dalam ruang renungnya, dengan akal pikiran manusia melakukan kontemplasi komprehensif guna mencari nilai-nilai, makna, manfaat, dan tujuan. Dari suatu penciptaan yang endingnya pada kepuasan, dimana kepuasan ini juga merupakan salah satu indikator dari keindahan.

Akal dan budi merupakan kekayaan manusia yang tidak dirniliki oleh makhluk lain, oleh karena itu akal dan budi manusia memiliki kehendak atau keinginan pada manusia ini tentu saja berbeda dengan “kehendak atau keinginan” pada hewan karena keduanya timbul dari sumber yang berbeda. Kehendak atau keinginan pada manusia bersumber dari akal dan budi, sedangkan kehendak atau keinginan pada hewan bersumber dari naluri. Sesuai dengan sifat kehidupan yang menjasmani dan merohani, maka kehendak atau keinginan manusia itu pun bersifat demikian. Jumlahnya tak terbatas. Tetapi jika dilihat dari segi tujuannya, satu hal sudah pasti yakni untuk menciptakan kehidupan yang menyenangkan, yang memuaskan hatinya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa “yang mampu menyenangkan atau memuaskan hati setiap manusia itu tidak lain hanyalah sesuatu yang “baik”, yang “indah”. Maka “keindahan pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia; karena dengan keindahan tu itu manusia merasa nyaman hidupnya. Melalui suasana . keindahan itu perasaan “(ke) manusia (annya)” tidak terganggu.

c)    Hubungan manusia dengan penderitaan

Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sanskerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat berupa penderitaan lahir atau batin, atau lahir batin. Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan bertingkat – tingkat, ada yang berat ada juga yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat tidaknya intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan. Banyak macam kasus penderitaan sesuai dengan lika liku kehidupan manusia, penderitaan secara fisik yang dialami manusia tentulah dapat diatasi dengan cara medis untuk mengurangi atau menyembuhkannya, sedangkan penderitan yang berwujud psikis, penyembuhannya terletak pada kemampuan si penderita dalam menyelesaikan soal-soal psikis yang dihadapinya.

Apabila kita kelompokkan secara sederhana berdasarkan sebab – sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat diperinci sebagai berikut :

  1. Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia

Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Penderitaan yang terkadang disebut nasib buruk ini dapat diperbaiki bila manusia itu mau berusaha untuk memperbaikinya.

  1. Penderitaan yang timbul karen penyakit, siksaan / azab Tuhan

Penderitaan manusia dapat juga terjadi akibat penyakit atau siksaan / azab Tuhan. Namun kesabaran, tawakal dan optimisme merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan itu.

Pengaruh Penderitaan

Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam – macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negatif. Sikap negatif misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, ingin bunuh diri. Sikap ini diungkapkan dalam peribahasa “sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”, “nasi sudah menjadi bubur”. Kelanjutan dari sikap negatif ini dapat timbul sikap anti, misalnya anti kawin atau tidak mau kawin, tidak punya gairah hidup.

d)   Hubungan manusia dengan keadilan

Keadilan, menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem itu menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak sama, maka masing-masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidak adilan.

Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama.

 

e)    Hubungan manusia dengan pandangan hidup

Dalam perjuangan menuju kehidupan yang lebih sempurna, sebagai makhluk Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Manusia memerlukan nilai-nilai atau unsur-unsur yang akan dianutnya sebagai pandangan hidup. Pandangan hidup berfungsi sebagai kerangka acuan,baik untuk menata kehiudupan diri pribadi manusia maupun berfungsi sebagai hubungan antara manusia dengan masyarakat dan alam di sekitarnya. Pandangan hidup tersebut merupakan landasan dasar untuk membentuk berbagai lembaga yang lebih penting bagi kehidupan ini.

Fungsi lembaga-lembaga yang dibentuk manusia adalah sebagai instrument, sarana, dan wahana untuk mewujudkan pandangan kehidupan adalah sekedar merupakan konsepsi yang bersifat abstrak, tanpa daya untuk mewujudkan dirinya dalam kenyataan. Sebagai makhluk sosial manusia tidaklah mungkin hidup menyendiri. Oleh karena itu, setiap manusia pribadi hidup sebagai bagian dari lingkungan sosial yang lebih luas, secara berturut-turut lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dll.

Hubungan pandangan mengenai kehidupan manusia dan masyarakat berdasarkan pada pandangan tentang manusia. Pandangan tentang manusia ini di dasarkan pada Pancasila. Dari sini dapat pula diartikan sebagai pandangan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam hubungan inilah manusia dapat hidup dan menghidupi. Manusia hidup dalam hubungan dengan Tuhannya dan dalam perlindunganNya selamanya termasuk dengan lingkungan. Dengan dan dalam kebudayaan dan serba hubungan menjadikan dunia dan lingkungan lebih menyenangkan dan menjadikan hidup lebih baik.

Konsep bangsa yang digunakan untuk merumuskan sila ketiga terutama konsep E Renan, yaitu sekelompok manusia yang mempunyai keinginan bersama untuk bersatu dan tetap mempertahankan persatuan,sedangkan factor-faktor yang mendorong manusia ingin bersatu itu bermacam-macam. Dalam hal ini apa yang digariskan oleh pasal 2 ayat (1) menegaskan bahwa Negara Indonesia ialah Negara kesatuan yang berbentuk republik.

Faktor pendorong ke arah persatuan yang ditekankan oleh WD ialah pendidikan, budaya yang diatur dalam pasal 31ayat (2) pemerintah berusaha menyelenggarakan suatu sistem penghujatan nasional yang diatur dengan undang-undang.

Norma-norma itulah yang harus di ikuti agar orang-orang Indonesia dapat hidup berbangsa sesuai dengan pancasila dan menjalankan sila 3 yang wujudkan pasal-pasal tersebut. Orang Indonesia tidak terlepas dari pasal-pasal lain. Lewat hal ini pulalah kecintaan manusia kepada Indonesia kepada bendera merah putih dan bahasa Indonesia dapat dikemukakan secara intensif.

Pandangan hidup adalah sikap manusia yang paling mendasar dalam menyikapi setiap hal yang terjadi dalam hidupnya, baik itu berupa masalah, tugas, tantangan dan segala yang dilakukannya manusia pasti mempunyai pandangannya masing – masing. Saya sebagai makhluk Tuhan yang beragama meyakini bahwa Tuhan itu ada,dan sangat berperan penting dalam kehidupan.banyak hal – hal yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat di dunia ini, karena memang hal tersebut tidak akan bisa kita pikirkan dengan pikiran kita yang terbatas.hal inilah yang kita sebut sebagai iman.banyak orang yang mempertanyakan tentang kepercayaan orang lain yang tidak bisa diterima dengan akal sehatnya. Jawabannya adalah iman.karena iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.sama halnya seperti rasa sakit, cinta, dan kasih, yang kita tidak dapat mengetahui seperti apa wujudnya, dan tidak dapat kita pikirkan dengan akal sehat tetapi kita mempercayai keberadaan hal tersebut.

Setiap manusia sudah pasti mempunyai pandangan hidup. Bagaimana kita memperlakukan pandangan hidup itu tergantung pada individu yang bersangkutan. Akan tetapi yang terpenting, kita seharusnya mempunyai langkah-langkah dalam berpandangan hidup, karena hanya dengan mempunyai langkah-langkah itulah kita dapat memperlakukan pandangan hidup sebagai sarana mencapai tujuan dan cita-cita dengan baik. Adapun langkah-langkah itu ialah : mengenal, mengerti, menghayati, meyakini, mengabdi, mengamankan.

Menurut asalnya pandangan hidup dibagi menjadi 3 yaitu :

  1. Pandangan hidup yang berasal dari agama,
  2. Pandangan hidup yang berupa ideologi, dan
  3. Pandangan hidup hasil renungan.

Pandangan hidup terdiri dari 4 unsur antara lain :

  1. Cita – Cita yang diinginkan dapat diraih dengan usaha dan perjuangan,
    1. Berbuat baik dalam segala hal dapat membuat seseorang merasa bahagia, damai, dan tentram,
    2. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi oleh keyakinan, dan
    3. Keyakinan dan kepercayaan adalah hal yang terpenting dalam hidup manusia.

Cita-cita

Kebajikan

Kebajikan atau kebaikan adalah suatu perbuatan yang mendatangkan kesenangan bagi diri sendiri maupun orang lain. Untuk dapat melihat kebajikan kita harus melihat dari 3 segi, yaitu manusia sebagai makhluk pribadi, manusia sebagai anggota masyarakat dan manusia sebagai makhluk Tuhan. Kebajikan berarti : berkata sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah tamah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang melihatnya.

Keyakinan atau kepercayaan

Keyakinan dan kepercayaan berasal dari kata yakin. Keyakinan ialah kepercayaan yang tidak berbelah lagi. Kemampuan anda dalam mengatasi segala halangan dalam hidup untuk mencapai kejayaan, banyak dipengaruhi oleh keyakinan diri anda. Ini bermakna lebih yakin anda terhadap diri anda serta masa hadapan anda, lebih terbukalah kejayaan untuk anda. terdapat 4 jenis keyakinan utama yang perlu kita miliki:

  1. Keyakinan diri terhadap Tuhan dan KeesaanNya
  2. Keyakinan terhadap diri sendiri
  3. Keyakinan diri sendiri terhadap orang lain
  4. Keyakinan orang lain terhadap diri sendiri

 

f)    Hubungan manusia dengan tanggung jawab

Manusia di dalam hidupnya disamping sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial. Di mana dalam kehidupannya di bebani tanggung jawab, mempunyai hak dan kewajiiban, dituntut pengabdian dan pengorbanan.
Tanggung jawab itu sendiri merupakan sifat yang mendasar dalam diri manusia. Selaras dengan fitrah. Tapi bisa juga tergeser oleh faktor eksternal. Setiap individu memiliki sifat ini. Ia akan semakin membaik bila kepribadian orang tersebut semakin meningkat. Ia akan selalu ada dalam diri manusia karena pada dasarnya setiap insan tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan sekitar yang menunutut kepedulian dan tanggung jawab. Inilah yang menyebabkan frekwensi tanggung jawab masing-masing individu berbeda. Tanggung jawab menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya.

Tanggung jawab timbul karena telah diterima wewenang. Tanggung jawab juga membentuk hubungan tertentu antara pemberi wewenang dan penerima wewenang. Jadi tanggung jawab seimbang dengan wewenang. Menurut WJS. Poerwodarminto, tanggung jawab adalah sesuatu yang menjadi kewajiban (keharusan) untuk dilaksanakan, dibalas dan sebagainya. Dengan demikian kalau terjadi sesuatu maka seseorang yang dibebani tanggung jawab wajib menanggung segala sesuatunya. Oleh karena itu manusia yang bertanggung jawab adalah manisia yang dapat menyatakan diri sendiri bahwa tindakannya itu baik dalam arti menurut norma umum, sebab baik menurut seseorang belum tentu baik menurut pendapat orang lain. Dengan kata lain, tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.

Tanggung jawab erat kaitannya dengan kewajiban. Kewajiban adalah sesuatu yang dibebankan terhadap seseorang. Kewajiban merupakan bandingan terhadap hak, namun dapat juga tidak mengacu kepada hak. Maka tanggung jawab manusia dalam hal ini adalah tanggung jawab terhadap kewajibannya. Setiap keadaan hidup menentukan kewajiban tertentu. Status dan peranan juga menentukan kewajiban seseorang. Ada dua bagian atau dua kewajiban yang berbeda, yang pertama yaitu kewajiban terbatas, adalah kewajiban yang tanggung jawabnya diberlakukan kepada setiap orang, sama, tidak dibeda bedakan.

Pengabdian/Pengorbanan
Manusia di dalam hidupnya selaku makhluk Tuhan selain dibebani tanggung jawab, mendapat hak dan juga mempunyai kewajiban, untuk melaksanakan hal-hal tersebut perlu pengabdian, bahkan pengorbanan. Pengertian pengabdian menurut WJS. Poerwodarminto adalah hal-hal yang berhubungan dengan mengabdi. Sedangkan mengabdi adalah suatu penyerahan diri, biasanya dilakukan dengan ikhlas, bahkan diikuti pengorbanan. Dimana pengorbanan berarti suatu pemberian untuk menyatakan kebaktian, yang dapat berupa materi,  perasaan, jiwa raga. Hakekat pengabdian adalah merupakan usaha untuk memikul tanggung jawab dan melaksanakan kewajiban sebagai manusia. (http://31107190.blogspot.com/)

 

g)   Hubungan manusia dengan kegelisahan

Selama hidupnya, manusia pasti pernah mengalami kegelisahan baik intensitasnya sering ataupun jarang, apalagi di era globalisasi seperti saat ini yang membutuhkan tingkat kompetitifitas yang tinggi untuk hidup di dalamnya. kegelisahan sendiri berasal dari kata gelisah yang berarti tidak tentram hatinya, selalu merasa khawatir,tidak senang tidak sabar, cemas sehingga kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tentram hati maupun perbuatannya, merasa khawatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan. sedangkan kita dapat mengetahui tanda tanda bahwa seseorang mengalami ketegang adalah dari tingkah lakunya. tingkah laku yang bagaimana? umumnya seorang yang sedang tegang melakukan hal- hal yang tidak biasa dia lakukan seperti berjalan mondar-mandir, duduk termenung sambil memegang kepalanya dan berbagai hal lain yang mungkin dapat membingungkan orang yang melihatnya. “Sigmon Freud”seorang ahli psikoanalisa berpendapat, bahwa ada tiga macam kecemasan yang menimpa manusia, yaitu: kecemasan kenyataan, kecemasan neoritik dan kecemasan moril

A)      Kecemasan tentang kenyataan ( objektif )

Kecemasan tentang kenyataan adalah suatu kenyataan yang pernah dialami oleh seseorang di masa lalu yang membuat orang tersebut menjadi shocked karenanya.

B)       Kecemasan Neoritis

Kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan, takut akan hal yang dibayangaknnya atau takut akan idnya sendiri sehingga menekan ego. kegelisahan ini akan membuat seseorang menjadi gelisah akan suatu hal yang buruk yang sedang di bayangkannya akan menjadi sebuah kenyataan.

C)       Kecemasan moril

Kecemasan moril sendiri disebabkan oleh pribadi seseorang dimana tiap pribadi memiliki berbagai macam emosi seperti: iri, benci, dendam,dengki,marah,gelisah.rasa kurang,cinta. rasa iri, benci,dendam merupakan sebagian dari pernyataan individu secara keseluruhan berdasarkan konsep yang kurang sehat, oleh karena itu alasan untuk iri,benci,dengki kurang dapat dipahami oleh orang lain. sifat-sifat seperti itu adalah sifat yang tidak terpuji bahkan mengakibatkan manusia merasa khawatir, takut,cemas,gelisah dan putus asa.

Apabila di kaji, sebab sebab orang gelisah adalah karena mereka takut kehilangan berbagai macam haknya seperti hak untuk hidup, hak milik, hak memperoleh perlindungan dan lain-lain. contohnya: beberapa waktu belakangan ini kita sering mendengar isu bahwa jakarta akan diguncang gempa dengan daya rusak yang setara dengan bom hiroshima pada waktu tertentu. ketika mereka mendengar berita tersebut, mereka langsung panik dan melakukan persiapan untuk mengamankan barang-barang miliknya atau membuat tenda di depan rumah dan menjudge bahwa berita tersebut benar adanya. padahal kalau kita telaah secara mendalam, tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui kapan dan dimana gempa itu akan terjadi. hal tersebut dapat terjadi karena mereka takut kehilangan beberapa haknya seperti hak untuk hidup, ak untuk mendapat perlindungan, dan lain lain. Mengatasi kegelisahan peratam-tama harus mulai dari diri kita sendiri, yaitu kita harus bersikap tenang. dengan sikap tenang kita dapat berpikir tenang, sehingga kesulitan dapat kita atasi. sedangkan cara yang paling ampuh untuk mengatasi kegelisahan adalah dengan berserah diri kepada tuhan.

Kesepian

Kesepian merupakan kondisi yang tidak menyenangkan, dan berdasarkan pengalaman berhubungan dengan tidak mencukupinya kebutuhan akan bentuk hubungan yang akrab atau intimasi (Sullivan dalam perlman & Peplau, 1982). Sermat (dalam Peplau & Perlman, 1982) berpendapat bahwa kesepian merupakan hasil dari interpretasi dan evaluasi individu terhadap hubungan sosial yang dianggap tidak memuaskan. Orang akan merasa kesepian bila intensitas hubungan social yang diharapkannya tidak sesuai atau kurang dari apa yang merupakan kenyataannya. Sedangkan Peplau dan Perlman (1982) mendifinisikan kesepian sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan, yang terjadi ketika hubungan social individu tidak berjalan sesuai yang diharapkannya.

Young (dalam Perlman & Peplau, 1982) menyatakan bahwa kesepian merupakan respon individu atas ketidakhadiran yang dirasa sangat penting dari social reinforcement. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kesepian adalah keadaan yang diakibatkan oleh perasaan tidak pernuhi kebutuhan keakraban, adanya hasil persepsi dan evaluasi hubungan social yang kurang memuaskan, dan kurang adanya reinforcement sosial. Karakteristik Kesepian Fromm-Reichman, Lopata, dan Young (dalam Yuniarti, 2002) menyebutkan karakteritik kesepian adalah sebagai berikut: tidak terpenuhinya kebutuhan akan keakraban, hasil persepsi dan evaluasi hubungan sosial yang kurang memuaskan, kurang adanya reinforcement sosial

Faktor penyebab kesepian

Menurut Middlebrook (1980), ada dua faktor penyebab dari kesepian, yaitu :

  1. Faktor Psikologis
    1. Existential Loneliness
    2. Pengalaman traumatis hilangnya orang-orang terdekat.
    3. Kurangnya dukungan dari orang lain.
    4. Adanya masalah krisis dalam diri seseorang dan kegagalan
    5. Kurangnya rasa percaya diri
    6. Kepribadian yang tidak sesuai dengan lingkungan
    7. Ketakutan menanggung resiko sosial

2.  Faktor Sosiologis

  1. Takut dikenal orang lain
  2. Nilai-nilai yang berlaku pada lingkungan sosial
  3. Kehidupan di rumah
  4. Perubahan pola-pola dalam keluarga
  5. Pindah tempat
  6. Terlalu besarnya suatu organisasi
  7. Desain arsitektur bangunan

Sadler (dalam Kirana, 2005) kesepian dapat disebabkan karena lima hal, yaitu : Interpersonal Problem,  Social Shock,  Culture Shock, Cosmic Problem,  Psychological

Ketidak pastian

Adalah sebutan yang digunakan dengan berbagai cara di sejumlah bidang, termasuk filosofifisikastatistikaekonomikakeuanganasuransipsikologisosiologiteknik, dan ilmu pengetahuan informasi. Ketidakpastian berlaku pada perkiraan masa depan hingga pengukuran fisik yang sudah ada atau yang belum diketahui.

penyebab ketidak pastian adalah tidak ada yang sama di dunia ini, dan juga kemampuan manusia yang terbatas untuk memastikan sesuatu hal yang ada, serta kekuasaan tiada batas yang dimiliki Allah SWT, dimana setiap manusia tidak akan mengetahui kehendak-Nya. Cara mengatasi ketidak pastian yang pasti bersiap-siap terlebih dahulu, merencanakan segala sesuatunya dengan matang, dan juga berdo’a agar apa yang diinginkan tercapai.

h)   Hubungan manusia dengan harapan

Harapan merupakan keinginan yang ingin dicapai oleh hati kita dan harapan pun yang membuat kita bertahan dalam menghadapi rintangan. Harapan dapat berupa harapan atas sesuatu yang tidak mungkin, harapan atas kerja keras atau bahkan harapan untuk memiliki seseorang. Dan biasanya setiap harapan pasti memiliki harga tertentu, tergantung besar kecilnya harapan tersebut.

Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan. Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Manusia wajib selalu berdoa. Karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan. Menurut kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia langusung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau anggota masyarakat lainnya. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari pergaulan hidup. Ditengah – tengah manusia lain, seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik/jasmani maupun mental/spiritualnya. Ada dua hal yang mendorong orang hidup bergaul dengan manusia lain, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.

Dalam diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawa dan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat atau hidup bersama dengan manusia lain. Dengan Kodrat ini, maka manusia mempunyai harapan. Dorongan kebutuhan hidup Sudah kodrat pula bahwa manusia mempunyai bermacam-macam kebutuhan hidup. Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusia bekerja sama dengan manusia lain. Dengan adanya dorongan kodrat atau dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai harapan. Untuk melangsungkan hidupnya manusia membutuhkan sandang pangan dan papan. Bila kita tinjau dari wujudnya harapan dapat dikatakan tidak terhingga, namun bila dilihat dari tujuannya hanya ada satu, ialah hidup bahagia. Bahagia dunia dan akhirat.

Terkait dengan kebutuhan manusia tersebut, abraham maslow mengkategorikan kebutuhan manusia menjadi 5 macam atau disebut juga 5 harapan manusia, yaitu;

  1. Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup
  2. Harapan untuk memperoleh keamanan
  3. Harapan mendapatkan hak untuk mencintai dan dicintai
  4. Harapan diterima lingkungan
  5. Harapan memperoleh perwujudan cita-cita

Harapan itu bersifat manusiawi dan dimiliki semua orang. Dalam hubungannya dengan pendidikan moral, untuk mewujudkan harapan perlu di wujudkan hal – hal sebagai berikut:

a. Harapan apa yang baik

b. Bagaimana mencapai harapan itu

c. Bagaimana bila harapan itu tidak tercapai.

Jika manusia mengingat bahwa kehidupan tidak hanya di dunia saja namun di akhirat juga, maka sudah selayaknya “harapan” manusia untuk hidup di kedua tempat tersebut bahagia. Dengan begitu manusia dapat menyelaraskan kehidupan antara dunia dan akhirat dan selalu berharap bahwa hari esok lebih baik dari pada hari ini, namun kita harus sadar bahwa harapan tidak selamanya menjadi kenyataan.

 

  1. 3.    Kraton Yogyakarta
    1. a.    Sejarah kraton Yogyakarta

Setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, Pangeran Mangkubumi diberi wilayah Yogyakarta. Kemudian untuk menjalankan pemerintahannya, Pangeran Mangkubumi membangun sebuah istana pada tahun 1755 di wilayah Hutan Beringan. Tanah ini di nilai cukup baik karena di apit oleh dua sungai, sehingga terlindung dari kemungkinan banjir. Raja pertama di Kesultanan Yogyakarta adalah Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I (HB I). Lokasi kraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri.

Karaton, Keraton atau Kraton, berasal dari kata ka-ratu-an, yang berarti tempat tinggal ratu/raja. Sedang arti lebih luas, diuraikan secara sederhana, bahwa seluruh struktur dan bangunan wilayah Kraton mengandung arti berkaitan dengan pandangan hidup Jawa yang essensial, yakni Sangkan Paraning Dumadi (dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati).

Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan. Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta. Kraton merupakan mata air peradaban yang tak pernah surut di makan waktu. Sejak berdirinya, Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat, merupakan salah satu dari empat pusat kerajaan Jawa (projo kejawen) yang merupakan pewaris sah kejayaan kebudayaan Mataram.

Para raja Mataram dan kemudian para Sultan Yogya mendapat predikat sebgai raja pinandhita dan narendra sudibyo yaitu pencipta (kreator) kebudayaan yang produktif (Purwadi 2007). Para Sultan bersama para ahli adat, melahirkan gagasan-gagasan asli tentang seni, sastra, sistem sosial, sistem ekonomi, dan seterusnya. Sri Sultan Hamengku Buwono I misalnya, melahirkan banyak karya seni dan arsitektur. Dengan Kraton sebagai pusat, masyarakat Yogya sudah berkembang menjadi sebuah sistem peradaban tersendiri sejak sebelum bergambung dengan RI (1945). Itulah yang disebut dalam Pasal 18 UUD 1945 (sebelum diamandemen) sebagai ‘’susunan asli.” Sejak Kraton berdiri, Yogya telah mempunyai sistem pemerintahan tersendiri dan telah melakukan reformasi pada tahun 1926 (reorganisasi Pangreh Praja).

Kraton sebagai pusat peradaban terlihat dari pola penyebaran kebudayaan yang memancarkan keluar secara sentrifugal. Dulu, Kraton merupakan pusat pemerintahan politis. Wilayah kekuasaan kasultanan diklasifikasi menurut konsep lapisan konsentris trimandala praja. Lapisan terdalam yang merupakan wilayah pusat kerajaan disebut nagara, merupakan ibukota kerajaan yang menjadi tempat tinggal raja dan para pejabat penting. Pusat nagara adalah Kraton. Lapisan kedua, disebut wilayah nagaragung yaitu daerah-daerah sekitar kota. Lapisan ketiga, disebut wilayah monconagoro yaitu daerah-daerah yang letaknya jauh.

Dibandingkan dengan Kraton Yogya, Republik Indonesia adalah sebuah peradaban yang masih sangat muda. Yogya turut membidani kelahiran peradaban baru itu. Ketika RI mengalami masa-masa kelahiran yang sangat kritis, Yogya memberi diri menjadi ”ibu pengasuh” dengan segala pengorbanannya. Secara politis itu sangat jelas, ibukota RI dipindah ke Yogya (sejak 1946). Kraton (Sri Sultan Hamengku Buwono IX) mengatur strategi Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk menunjukkan eksistensi RI di mata dunia dan sebagainya. Sejak awal, Yogya telah memberikan banyak nutrisi bagi pertumbuhan peradaban Indonesia. RI bagaikan bayi yang menyusu pada Yogya sebagai induk semangnya. Banyak gagasan peradaban muncul dari Yogya.

  1. b.   Arsitektur Kraton Yogyakarta

Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). Selain itu Kraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Kraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Kraton Yogyakarta.

Arsitek kepala istana ini adalah Sultan Hamengkubuwana I, pendiri Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keahliannya dalam bidang arsitektur dihargai oleh ilmuwan berkebangsaan Belanda, Theodoor Gautier Thomas Pigeaud dan Lucien Adam yang menganggapnya sebagai “arsitek” dari saudara Pakubuwono II Surakarta. Bangunan pokok dan desain dasar tata ruang dari keraton berikut desain dasar landscape kota tua Yogyakarta, diselesaikan antara tahun 1755-1756. Bangunan lain di tambahkan kemudian oleh para Sultan Yogyakarta berikutnya. Bentuk istana yang tampak sekarang ini sebagian besar merupakan hasil pemugaran dan restorasi yang dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwono VIII (bertahta tahun 1921-1939).

Dahulu bagian utama istana, dari utara keselatan, dimulai dari Gapura Gladhag di utara sampai di PlengkungNirboyo di selatan. Bagian-bagian utama kraton Yogyakarta dari utara ke selatan adalah: Gapura Gladag-Pangurakan; Kompleks Alun-alun Ler (Lapangan Utara) dan Mesjid Gedhe (Masjid Raya Kerajaan); Kompleks Pagelaran, Kompleks Siti Hinggil Ler, Kompleks Kamandhungan Ler; Kompleks Sri Manganti; Kompleks Kedhaton; Kompleks Kamagangan; Kompleks Kamandhungan Kidul; Kompleks Siti Hinggil Kidul (sekarang disebut Sasana Hinggil); serta Alun-alun Kidul (Lapangan Selatan) dan Plengkung Nirbaya yang biasa disebut Plengkung Gadhing.

Bagian-bagian sebelah utara Kedhaton dengan sebelah selatannya boleh dikatakan simetris. Sebagian besar bagunan di utara Kompleks Kedhaton menghadap arah utara dan di sebelah selatan Kompleks Kedhaton menghadap ke selatan. Di daerah Kedhaton sendiri bangunan kebanyakan menghadap timur atau barat. Namun demikian ada bangunan yang menghadap ke arah yang lain. Selain bagian-bagian utama yang berporos utara-selatan keraton juga memiliki bagian yang lain. Bagian tersebut antara lain adalah Kompleks Pracimosono, Kompleks Roto Wijayan, Kompleks Keraton Kilen, Kompleks Taman Sari, dan Kompleks Istana Putra Mahkota. Di sekeliling Kraton dan di dalamnya terdapat sistem pertahanan yang terdiri dari tembok atau dinding Cepuri dan Baluwerti. Secara umum tiap kompleks utama terdiri dari halaman yang ditutupi dengan pasir dari pantai selatan, bangunan utama serta pendamping, dan kadang ditanami pohon tertentu. Kompleks satu dengan yang lain dipisahkan oleh tembok yang cukup tinggi dan dihubungkan dengan Regol yang biasanya bergaya Semar Tinandu. Daun pintu terbuat dari kayu jati yang tebal. Di belakang atau di muka setiap gerbang biasanya terdapat dinding penyekat yang disebut Renteng atau Baturono.

Bangunan-bangunan Keraton Yogyakarta lebih terlihat bergaya arsitektur Jawa tradisional. Di beberapa bagian tertentu terlihat sentuhan dari budaya asing seperti Portugis, Belanda, bahkan Cina. Bangunan di tiap kompleks biasanya berbentuk Joglo. Joglo terbuka tanpa dinding disebut dengan Bangsal sedangkan joglo tertutup dinding dinamakan Gedhong (gedung). Selain itu ada bangunan yang berupa kanopi beratap bambu dan bertiang bambu yang disebut Tratag. Pada perkembangannya bangunan ini beratap seng dan bertiang besi.

Permukaan atap joglo berupa trapesium. Bahannya terbuat dari sirap, genting tanah, maupun seng dan biasanya berwarna merah atau kelabu. Atap tersebut ditopang oleh tiang utama yang di sebut dengan Soko Guru yang berada di tengah bangunan, serta tiang-tiang lainnya. Tiang-tiang bangunan biasanya berwarna hijau gelap atau hitam dengan ornamen berwarna kuning, hijau muda, merah, dan emas maupun yang lain. Untuk bagian bangunan lainnya yang terbuat dari kayu memiliki warna senada dengan warna pada tiang. Pada bangunan tertentu (misal Manguntur Tangkil) memiliki ornamen Putri Mirong, stilasi dari kaligrafi Allah, Muhammad, dan Alif Lam Mim Ra, di tengah tiangnya.

 

  1. c.    Fungsi Kraton Yogyakarta

Fungsi Keraton dibagi menjadi dua yaitu fungsi Keraton pada masa lalu dan fungsi Keraton pada masa kini. Pada masa lalu keraton berfungsi sebagai tempat tinggal para raja. Keraton didirikan pada tahun 1755, selain itu di bagian selatan dari Keraton Yogyakarta, terdapat komplek kesatriaan yang digunakan sebagai sekolah putra-putra sultan. Sekolah mereka dipisahkan dari sekolah rakyat karena memang sudah merupakan aturan pada Keraton bahwa putra- putra sultan tidak diperbolehkan bersekolah di sekolah yang sama dengan rakyat. Sementara itu, fungsi Keraton pada masa kini adalah sebagai tempat wisata yang dapat dikunjungi oleh siapapun baik turis domestik maupun mancanegara. Selain sebagai tempat untuk berwisata, tidak terlupakan pula fungsi Keraton yang bertahan dari dulu sampai sekarang yaitu sebagai tempat tinggal sultan. Pada saat kita akan memasuki halaman kedua dari Keraton, terdapat gerbang dimana di depannya terdapat dua buah arca. Setiap arca ini memiliki arti yang berlawanan. Arca yang berada di sebelah kanan disebut Cingkorobolo yang melambangkan kebaikan, sementara itu arca yang terletak di sebelah kiri disebut Boloupotu yang melambangkan kejahatan. Selain itu kami juga mendapatkan sedikit informasi tentang Sultan Hamengku Buwono IX. Sultan ke IX dari Keraton Yogyakarta ini lahir pada tanggal 12 April 1940 dan wafat dalam usianya yang ke 48 yaitu pada tanggal 3 Oktober 1988. Ia memiliki berbagai macam hobi, diantaranya adalah menari, mendalang, memainkan wayang, dan yang terakhir memotret. Sultan ini memiliki suatu semboyan yang sangat terkenal yaitu, “Tahta untuk rakyat”

  1. 4.    Makna budaya

Ada dua unsur yang penting dan saling terkait dalam proses pemberian makna budaya, yaitu penentuan unsur-unsur yang menjadikan tempat itu penting serta nilai penting atau makna budaya itu sendiri di masyarakat. Makna budaya adalah sesuatu yang memiliki nilai ‘estetis, bersejarah, ilmiah, atau nilai sosial untuk masa lampau, sekarang, dan masa depan’. Untuk menilai makna estetis tentu saja dibutuhkan panduan dari pakarnya. Hal lainya berkaitan dengan menaksir nilai ini adalah penjelasan tentang nilai-nilai lainnya berupa nilai arsitektural, nilai sejarah, nilai pengetahuan, dan nilai sosial. Oleh karena itu penulis disini hanya akan memberikan makna berdasarkan pemahaman terbatas dari penuilis berdasarkan apa yang dilihat, dicatatat, dari cerita petugas di kraton Yogyakarta dan sebagian diperoleh dari sumber diluar lingkungan Kraton yang dirasa membantu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

  1. A.      Wujud Budaya

Kebudayaan memiliki 3 wujud, yakni ide, perilaku, dan artefak. Ketiga wujud kebudayaan tersebut tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat, dimana ide menghasilkan perilaku atau tindakan dan karya manusia (artefak). Kemudian ide-ide, tindakan dan karya menghasilkan benda-benda kebudayaan. Selain memiliki 3 wujud, kebudayaan juga mempunyai 7 unsur universal, yaitu bahasa, kesenian, religi, sistem teknologi, sistem sosial, sistem pengetahuan, dan sistem mata pencaharian hidup.

Salah satu benda-benda kebudayaan adalah bangunan tradisional, dalam hal ini kita ambil kraton Yogyakarta, dimana bangunan tradisional kraton Yogyakarta dipandang sebagai suatu identitas dari kebudayaan daerah maupun kebudayaan nasional, karena pada bangunan kraton Yogyakarta terdapat ornamen-ornamen atau hiasan yang ada dan menghiasi bangunan tersebut. Mengacu pada penjabaran 7 unsur budaya universal, maka ornament tersebut dapat dikatakan sebagai perwujudan budaya. Yaitu unsur kesenian, sistem teknologi, dan religi. Wujud kebudayaan yang terdapat dalam kraton Yogyakarta jumlahnya hamper tidak bisa dihitung oleh jari, oleh karena itu wujud budaya yang dipaparkan disini hanya sebatas pemahaman dan pengetahuan penulis. Berikut adalah wujud kebudayaan yang terdapat pada kraton Yogyakarta:

Menurut guide, bangunan kraton Yogyakarta kurang lebih memiliki tujuh balai atau disebut bangsal. Masing-masing bangsal dibatasi pintu masuk atau disebut regol. Keenam regol adalah Regol Brojonolo, Sri Manganti, Danapratopo, Kemagangan, Gadungmlati, dan Kemandungan. Kraton diapit dua alun-alun yaitu Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan.

  1. Gerbang utama untuk masuk ke dalam kompleks Keraton Yogyakarta dari arah utara adalah Gapura Pangurakan yang terletak persis beberapa meter di sebelah selatannya.  Gerbang ini tampak seperti pertahanan yang berlapis. Pada zamannya konon Pangurakan merupakan tempat penyerahan suatu daftar jaga atau tempat pengusiran dari kota bagi mereka yang mendapat hukuman pengasingan atau pembuangan. Di luar gerbang yang mempunyai empat penyangga utama atau yang disebut saka guru ini sekarang terdapat banyak aktivitas masyarakat, dari penarik becak, penjual minuman dan lain-lain.
  2. Alun-alun Lor adalah sebuah lapangan berumput di bagian utara Keraton Yogyakarta. Menurut ceritanya, dulu tanah lapang yang berbentuk persegi ini dikelilingi oleh dinding pagar yang cukup tinggi dan saat ini alun-alun dipersempit, hanya bagian tengahnya saja yang tampak. Di bagian pinggir sudah dibuat jalan beraspal yang dibuka untuk umum. Di sebelah utara terdapat perpustakaan museum sonobudoyo, dimana disitu disimpan banyak naskah berumur tua. Museum ini terbuka untuk umum, namun karena menjaga kualitas dan keawetan koleksi museum tak segan sang penjaga sering menegur secara keras. Pada bagian tengah alun-alun terdapat dua buah pohon beringin, yang konon apabila kita bias melewati atau berjalan ditengah-tengah kedua pohon tersebut dengan mata terpejam sebanyak 3 kali, maka keinginan kita akan tercapai. Dewasa kini fungi alun-alun utara menjadi tempat berkumpulnya anak muda, tempat mengadakan konser musik, area parker kendaraan bermotor, bermain sepak bola, kampanye dan lain-lain. Salah satu acara yang terjadi ditahun 2009 di alun-alun utara adalah pisowanan agung atau pisowanan ageng, yaitu rakyat dan pejabat dating menghadap raja sebagai bentuk kesetiaan. Pisowanan ageng memperlihatkan sebuah cermin yang memperlihatkan bentuk-bentuk nilai demokrasi dalam budaya lokal.
  3. Kompleks Mesjid Gedhe Kasultanan (Masjid Raya Kesultanan) atau Masjid Besar Yogyakarta terletak di sebelah barat kompleks Alun-alun utara. Kompleks yang juga disebut dengan Mesjid Gedhe Kauman. Untuk masuk ke dalam terdapat pintu utama di sisi timur dan utara.
    1. Bangunan utama adalah Bangsal Pagelaran yang dahulu dikenal dengan nama Tratag Rambat. Sering digunakan untuk even-even pariwisata, religi, dan lain-lain disamping untuk upacara adat keraton. Sepasang Bangsal Pemandengan terletak di sisi jauh sebelah timur dan barat Pagelaran. Disebelah timur sebelah selatan terdapat ruang untuk karawitan. Saat ini di sisi selatan kompleks ini dihiasi dengan relief perjuangan Sultan HB I dan Sultan HB IX. Kompleks Pagelaran ini pernah digunakan oleh Universitas Gadjah Mada sebelum memiliki kampus di Bulak Sumur.
    2. Siti Hinggil. Kompleks Siti Hinggil secara tradisi digunakan untuk menyelenggarakan upacara-upacara resmi kerajaan. Tempat ini digunakan untuk peresmian Universitas Gadjah Mada. Kompleks ini dibuat lebih tinggi dari tanah di sekitarnya dengan dua jenjang untuk naik berada di sisi utara dan selatan. Di antara Pagelaran dan Siti Hinggil ditanami deretan pohon Gayam. Di kanan dan kiri ujung bawah jenjang utara Siti Hinggil terdapat dua Bangsal. Bangunan Tarub Agung terletak tepat di ujung atas jenjang utara. Bangunan ini berbentuk kanopi persegi dengan empat tiang, tempat para pembesar transit menunggu rombongannya masuk ke bagian dalam istana. Di timur laut dan barat laut Tarub Agung terdapat Bangsal Kori. Di tempat ini dahulu bertugas abdi-Dalem Kori dan abdi-Dalem Jaksa yang fungsinya untuk menyampaikan permohonan maupun pengaduan rakyat kepada Sultan.
      1. Di selatan Siti Hinggil terdapat lorong yang membujur ke arah timur-barat. Dinding selatan lorong merupakan dinding Cepuri dan terdapat sebuah gerbang besar, Regol Brojonolo, sebagai penghubung Siti Hinggil dengan Kamandhungan. Di sebelah timur dan barat sisi selatan gerbang terdapat pos penjagaan. Gerbang ini hanya dibuka pada saat acara resmi kerajaan dan di hari-hari lain selalu dalam keadaan tertutup. Untuk masuk ke kompleks Kamandhungan sekaligus kompleks dalam Keraton sehari-hari melalui pintu Gapura Keben di sisi timur dan barat kompleks ini yang masing-masing menjadi pintu masing-masing ke jalan Kemitbumen dan Rotowijayan.
      2. Kompleks Kamandhungan lor atau ler sering disebut Keben karena di halamannya ditanami pohon Keben. Bangsal Ponconiti yang berada ditengah-tengah halaman merupakan bangunan utama di kompleks ini. Dahulu (kira-kira sampai 1812) bangsal ini digunakan untuk mengadili perkara dengan ancaman hukuman mati dengan Sultan sendiri yang yang memimpin pengadilan. Versi lain mengatakan digunakan untuk mengadili semua perkara yang berhubungan dengan keluarga kerajaan. Kini bangsal ini digunakan dalam acara adat seperti garebeg dan sekaten. Di selatan bangsal Ponconiti terdapat kanopi besar untuk menurunkan para tamu dari kendaraan mereka yang dinamakan Bale Antiwahana. Selain kedua bangunan tersebut terdapat beberapa bangunan lainnya di tempat ini.
      3. Kompleks Sri Manganti terletak di sebelah selatan kompleks Kamandhungan Ler dan dihubungkan oleh Regol Sri Manganti. Pada dinding penyekat terdapat hiasan Makara raksasa. Sekarang di lokasi ini ditempatkan beberapa pusaka keraton yang berupa alat musik gamelan. Selain itu juga difungsikan untuk penyelenggaraan even pariwisata keraton. Bangsal Traju Mas yang berada di sisi timur dahulu menjadi tempat para pejabat kerajaan saat mendampingi Sultan dalam menyambut tamu. Versi lain mengatakan kemungkinan tempat ini menjadi balai pengadilan. Tempat ini digunakan untuk menempatkan beberapa pusaka yang antara lain berupa tandu dan meja hias. Bangsal ini pernah runtuh pada 27 Mei 2006 akibat gempa bumi yang mengguncang DIY dan Jawa Tengah. Setelah proses restorasi yang memakan waktu yang lama akhirnya pada awal tahun 2010 bangunan ini telah berdiri lagi di tempatnya. Di sebelah timur bangsal ini terdapat dua pucuk meriam buatan Sultan HB II yang mengapit sebuah prasasti berbahasa dan berhuruf Cina. Di sebelah timurnya berdiri Gedhong Parentah Hageng Karaton, gedung Administrasi Tinggi Istana. Selain itu di halaman ini terdapat bangsal Pecaosan Jaksa, bangsal Pecaosan Prajurit, bangsal Pecaosan Dhalang dan bangunan lainnya. Sri Manganti juga menjadi nama salah satu hotel yang terdapat di Yogyakarta.
      4. Kedhaton merupakan inti dari Keraton. Halamannya kebanyakan dirindangi oleh pohon Sawo kecik. Kompleks ini setidaknya dapat dibagi menjadi tiga bagian halaman. Bagian pertama adalah Pelataran Kedhaton dan merupakan bagian Sultan. Bagian selanjutnya adalah Keputren yang merupakan bagian istri (para istri) dan para puteri Sultan. Bagian terakhir adalah Kesatriyan, merupakan bagian putra-putra Sultan. Di kompleks ini tidak semua bangunan maupun bagiannya terbuka untuk umum, terutama dari bangsal Kencono ke arah barat. Di bagian Pelataran Kedhaton, Bangsal Kencono (Golden Pavilion) yang menghadap ke timur merupakan balairung utama istana. Di tempat ini dilaksanakan berbagai upacara untuk keluarga kerajaan di samping untuk upacara kenegaraan. Di keempat sisi bangunan ini terdapat Tratag Bangsal Kencana yang dahulu digunakan untuk latihan menari.
      5. Di sisi selatan kompleks Kedhaton terdapat Regol Kamagangan yang menghubungkan kompleks Kedhaton dengan kompleks Kemagangan. Gerbang ini begitu penting karena di dinding penyekat sebelah utara terdapat patung dua ekor ular yang menggambarkan tahun berdirinya Keraton Yogyakarta. Di sisi selatannya pun terdapat dua ekor ular di kanan dan kiri gerbang yang menggambarkan tahun yang sama.
      6. Alun-alun Kidul (Selatan) adalah alun-alun di bagian Selatan Keraton Yogyakarta. Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki lima gapura, satu buah di sisi selatan serta di sisi timur dan barat masing-masing dua buah. Di antara gapura utara dan selatan di sisi barat terdapat sebuah kandang untuk memelihara gajah milik Sultan. Di sekeliling alun-alun ditanami pohon mangga, pakel, dan kuini. Pohon beringin hanya terdapat dua pasang. Sepasang di tengah alun-alun yang dinamakan Supit Urang (capit udang) dan sepasang lagi di kanan-kiri gapura sisi selatan.
      7. 12.    Plengkung Nirbaya merupakan ujung selatan poros utama keraton. Gerbang ini secara tradisi digunakan sebagai rute keluar untuk prosesi panjang pemakaman Sultan ke Imogiri. Untuk alasan inilah tempat ini kemudian menjadi tertutup bagi Sultan yang sedang bertahta.

 

  1. B.       Unsur-unsur Kemanusiaan Secara Simbolik
    1. Kraton dan hubungan manusia dengan keindahan

Banyak ornamen-ornamen yang terdapat pada bangunan kraton Yogyakarta, hal ini menunjukan bukti bahwa kraton Yogyakarta memiliki unsur simbolik tentang keindahan yang ada pada dinding kraton dan bangunan kraton. Kemudian hubungan lain antara manusia dengan keindahan terlihat pada keselarasan dan keteraturan bangunan kraton. Tiap bangunan kraton mempunyai makna dan fungsi tersendiri. Kaindahan juga Nampak pada alam yang mengelilingi kraton dimana dapat kita lihat tata letak bangunan kraton yang terlihat sangat teratur. Kraton masih konsisten untuk mengadakan upacara-upacara dan melaksanakan tradisi kebudayaan Jawa, keindahan dari budaya Jawa dapat kita lihat tiap kali kraton mengadakan kegiatan atau upacara kebudayaan. Bahasa yang dipergunakan dalam sebagian bangunan kraton adalah karma inggil bagongan, hal ini menunjukan keindahan masyarakat dalam hal berbahsa. Selain itu busana yang dikenakan oleh masyarakat lingkungan kraton juga melambangkan nilai keindahan tersendiri.

  1. Kraton dan hubungan manusia dengan keadilan

Dalam hubungannya dengan keadilan, pada zaman dahulu kraton menerapkan sistem pengasingan atau pengusiran bagi masyarakat atau seseorang yang dianggap melakukan kegiatan kejahatan, dengan cara diusir dari depan gapura pangurakan. Hal ini memperlihatkan keadilan kraton dalam hal menjaga dan memberikan kenyamanan pada setiap anggota masyarakat. Dewasa kini, keadilan tersebut dapat kita lihat dalam kehidupan keseharian dilingkungan kraton Yogyakarta yakni masyarakat bebas untuk mencari dan memperoleh panghasilan dari jasa yang mereka berikan dilingkungan kraton, adanya penjual makanan, tukang parker, tukang becak, pemandu wisata dan lain-lain memperlihatkan bahwa kraton memberikan kebebasan dan keadilan pada masyarakat untuk memperoleh uang atau mendapatkan pekerjaannya.

  1. Kraton dan hubungan manusia dengan pandangan hidup

Unsur-unsur kemanusiaan yang terdapat dalam Kraton Yogyakarta dalam hubungannya dengan pandangan hidup antara lain, bila kita memasuki area kraton Yogyakarta, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk menjaga tingkah laku, berbuat bertutur dan bertindak sopan, hal tersebut merupakan salah satu tindakan kebajikan yang merupakan salah satu wujud dari pandangan hidup. Masyarakat lingkungan kraton menjunjung tinggi dan menghormati keluarga kraton, hal ini dikarenakan mereka memiliki ikatan kuat dalam hal batin mereka dan pandangan hidup mereka berupa ideologi bahwa Sultan adalah wali Tuhan yang diturunkan kebumi, jadi sudah selayaknya mereka menghormati. Dalam kraton memiliki norma-norma yang masih dijaga dan dilaksanakan, norma-norma tersebut merupakan hasil dari pandangan hidup mereka mengenai hubungan antar manusia dalam dunia.

  1. Kraton dan hubungan manusia dengan tanggung jawab

Manusia di dalam hidupnya disamping sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial. Di mana dalam kehidupannya di bebani tanggung jawab, mempunyai hak dan kewajiiban, dituntut pengabdian dan pengorbanan. Unsur kemanusiaan yang terdapat dalam kraton sebagai lambang hubungan manusia dengan tanggung jawabnya, terlihat dari adanya masjid gede disekitar alun-alun utara, hal ini melambangkan bagaimana tanggung jawab kita pada sang pencipta. Setiap masyarakat kraton menjaga dan melestarikan kebudayaan mereka, hal ini merupakan bentuk tanggung jawab terhadap bangsa dan Negara yang diwujudkan dalam bentuk melestarikan budaya Jawa yang ada dalam kraton. Masyarakat dilingkungan kraton sebagian ada yang menggantungkan hidupnya dari kraton, hal ini merupakan salah satu wujud hubungan kraton dengan manusia dalam hal tanggung jawab pada diri sendiri yaitu untuk memperoleh makan.

 

  1. C.      Apresiasi Terhadap Kraton Yogyakarta

Kraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya yang tidak ternilai harganya, baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika banyak nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Kraton Yogyakarta yang sangat menarik wisatawan dalam maupun luar negeri, sekaligus menjadi pusat studi dunia. Kraton Yogyakarta menjadi tempat yang cocok untuk belajar dan melihat kekayaan budaya Jawa yang masih terus dijaga dan dilestarikan sampai sekarang.

Denyut sendi kehidupan yang ada di dalam kraton memberikan kita pembelajaran bahwa, dikraton terdapat banyak kehidupan sosial masyarakat, banyak masyarakat yang hidup nya bergantung pada kraton, contohnya pemandu wisata, penjual jasa, pedagang sekitar kraton, penarik becak, dan lain-lain. Sehingga dapat dikatakan kraton menghidupi masyarakat dan kelangsungan hidup mereka tergantung pula pada kelangsungan kraton.

Struktur bangunan atau arsitektur kraton yang sangat rumit dengan segala macam ornamennya memberikan kita kebanggaan tersendiri yakni bahwa pendahulu kita, nenek moyang kita ternyata telah mempunyai kebudayaan yang tinggi dan dapat dibanggakan pada dunia luar. Sehingga diharapkan kita tidak lagi malu untuk memamerkan kebudayaan yang kita miliki. Kraton Yogyakarta memiliki nilai budaya yang sangat tinggi, dimana kraton mengatur semua hal yang menjadi pedoman masyarakat Jawa dalam bertindak atau bermasyarakat. Kraton Yogyakarta memberikan contoh bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan (adanya masjid gede disekitar alun-alun utara), hubungan masyarakat dengan masyarakat lain dan hubungan antara masyarakat dengan pemimpinnya.

Dari kesemuanya itu dapat penulis katakana bahwa nilai kraton Yogyakarta tidak dapat dikatakan dengan kata apapun, dan tidak dapat dihargai dengan bentuk apapun. Bangunan serta kebudayaan yang ada dalam kraton Yogyakarta mencerminkan masyarakat Jawa yang masih memegang teguh pendirian dan kelestarian budayanya.

BAB III

PENUTUP

  1. A.      Kesimpulan

Semua perubahan yang terjadi banyak berakibat dari kebudayaan yang datang silih berganti dari setiap Negara yang menghampiri Indonesia. Kraton Yogyakarta merupakan contoh nyata bagaimana perubahan budaya tidak terlalu berpengaruh besar pada budaya kraton dari masa ke masa. Kraton Yogyakarta terus mempertahankan budayanya, ditengah arus perubahan yang kian terasa.

Kraton Yogyakarta merupakan salah satu warisan Budaya di Indonesia, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Letak Kraton Yogyakarta yaitu terletak di pusat kota Yogyakarta. Dari utara ke selatan area Kraton berturut-turut terdapat Alun-Alun Utara, Siti Hinggil Utara, Kemandhungan Utara, Srimanganti, Kedhaton, Kemagangan, Kemandhungan Selatan, Siti Hinggil Selatan dan Alun-Alun Selatan. Kraton Yogyakarta sampai dengan saat ini juga merupakan salah satu lokasi tujuan wisata di kota Yoggyakarta.

Bagi para wisatawan kraton Yogyakarta menyajikan berbagai macam benda peniggalan sejarah, seperti keris, gamelan, senjata, dll. Selain itu Kraton Yogyakarta juga menyajikan kesenian tradisonal yaitu menyanyikan lagu-lagu canpursari dengan diiringi gamelan tradisional. Tidak hanya itu, para wisatawan juga dapat megelilingi kraton Yogyakarta dan melihat bangunan-bangunan sejarah penigglan zaman dahulu, yang sampai saat ini tetap berdiri kokoh. Kraton Yogyakarta juga memilki upacara-upacara adat di setiap ttahunnya. Salah satu diantaranya adalah upacara adat grebegan, yaitu merupakan upacara adat yang diadakan sebagai kewajiban sultan untuk menyebarkan dan melindungi agama Islam.

  1. B.       Saran

Saran saya perlu ditanamkan pada anak untuk mencintai produk dalam negeri serta membuat suatu karya hasil tangan yang diproduksi dari bahan alami yang ada di Indonesia. Banyak membuat acara lomba-lomba designer kebaya modern sehingga remaja tidak lagi terkesan kuno akan dengan pakaian khas bangsanya sendiri jusru dengan memakai kebaya bangga akan negaranya sendiri. Selain itu pemerintah memberikan penghargaan bagi anak-anak yang berprestasi dalam segala bidang terutama yang berhasil membawa nama Indonesia dihadapan Dunia, karena akan memicu semangat para penerus bangsa untuk berjuang demi negaranya serta merasa lebih merasa dihargai oleh Negara dan pemerintah.

Adanya peran pemerintah untuk membatasi atau menyaring budaya yang masuk selain itu peran pendidikan yang memupuk rasa nasionalisme dan menjaga budaya bangsa yang telah turun menurun. Selain itu peran keluarga yang membentuk suatu karakter anak agar tetap mempunyai nilai-nilai norma budaya yang masih kental walaupun sudah banyak dipengaruhi oleh budaya luar yang bertolak belakang dengan budaya ke Timuran. Semua kembali pada kesadaran individu serta lingkungan sekitarnya.

  1. C.      Kritik dan Masukan Terhadap Pelaksanaan Kuliah Apresiasi Budaya

Kebanyakan (termasuk materi saya sendiri) hanya berkutat pada masalah pengertian dan dasar, karena waktu yang terbatas pada ahirnya Dosen juga kurang dalam memberikan penjelasan materi tambahan. Alangkah lebih baiknya untuk kedepannya kelompok pemresentasi dipersempit menjadi beberapa kelompok saja, sehingga Dosen mempunyai waktu lebih untuk menambah dan memberikan penjelasan materi yang lebih mendalam.

Keaktifan mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan dirasa cukup bagus, namun untuk lebih mengaktifkan lagi, saya rasa perlu memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan mereka melalui tulisan, karena kadang mahasiswa merasa malu untuk mengungkapkan pendapatnya sehingga saya merasa cara ini masih cukup relevan. Tulisan yang mereka buat kemudian dibahas oleh Dosen pengampu mata kuliah.

 

Daftar Pustaka

 

Setiadi, Elly M, dkk. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta : Kencana.

http://id.shvoong.com/books/1873149-keraton-yogyakarta/ diakses pada tanggal 24 Januari 2011. Pukul 11.06 Wib

http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya diakses pada tanggal 23 Desember 2011. Pukul 23.50 Wib

http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Yogyakarta diakses pada tanggal 23 Desember 2011. Pukul 23.55 Wib

Proposal Skripsi

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Keterampilan berbahasa bagi siswa SMP merupakan dasar untuk mengembangkan dirinya dalam berkomunikasi di masyarakat, sehingga siswa dituntut menguasai banyak keterampilan. Salah satu di antaranya adalah keterampilan berbahasa untuk memperlancar komunikasi dan berinteraksi satu sama lain. Ada empat macam keterampilan berbahasa yang memiliki hubungan erat satu sama lain, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Keterampilan menulis merupakan kegiatan yang penting dalam kehidupan manusia. Manusia telah melakukan kegiatan menulis sejak mereka mengenal simbol-simbol pada zaman prasejarah. Sampai sekarang, mereka tetap melakukan kegiatan menulis karena keterampilan tersebut dipandang sebagai komunikasi yang paling efektif dan ekonomis, walaupun sudah ada alat komunikasi modern seperti radio, televisi, dan lain-lain. Suatu komunikasi dipandang efektif apabila yang dikomunikasikan itu sampai ke tempat tujuannya dengan maksud sesuai dengan sumbernya.

Menulis adalah suatu keterampilan yang memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Keterampilan menulis memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Hal itu disebabkan keterampilan menulis memerlukan penguasaan akan unsur kebahasaan dan unsur di luar kebahasaan yang akan menjadi isi karangan. Unsur kebahasaan maupun unsur di luar kebahasaan harus terjalin dengan baik, agar dapat menghasilkan karangan yang runtut dan padu.

Pembelajaran keterampilan menulis di SMP 16 Yogyakarta pada umumnya masih belum efektif karena kurangnya kebiasaan menulis oleh siswa sehingga mereka sulit menuangkan ide-idenya dalam bentuk tulisan. Kurangnya praktik menulis itulah yang menjadi salah satu faktor kurang terampilnya siswa dalam menulis. Siswa Sekolah Menengah Pertama seharusnya dituntut untuk mampu mengekspresikan gagasan, pikiran, dan perasaannya secara tertulis. Namun pada kenyataannya, kegiatan menulis belum dapat terlaksana sepenuhnya. Selain itu, siswa merasa kesulitan menumbuhkan imajinasinya apabila dihadapkan pada suatu topik yang tidak dikenalnya. Siswa akan mengalami kesulitan dalam mengekspresikannya ke dalam tulisan. Akibatnya siswa tidak dapat melanjutkan kegiatan menulis.

Inti permasalahan yang harus diselesaikan adalah membuat pelajar mampu menulis karangan deskripsi dengan cara menumbuhkan imajinasi yang dimilikinya, apabila dihadapkan pada topik yang belum dikenalnya. Untuk itu, diperlukan suatu inovasi pembelajaran sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran menulis, khususnya menulis karangan deskripsi berbahasa Jawa. Penggunaan media gambar flow chart diprediksi merupakan inovasi baru untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi berbahasa Jawa.

Gambar yang terdapat dalam flow cart adalah berbentuk  mirip kartun. Gambar semi kartun yang terdapat dalam flow cart mempunyai kekuatan untuk memancing perhatian serta mempengaruhi sikap dan perilaku pembacanya. Karakteristik yang nyata dari gambar flow chart dapat mempersingkat penjelasan yang panjang serta rumit melalui unsur gambar yang ditampilkan sehingga menjadi sederhana dan mudah dipahami. Oleh karena itu, media gambar flow chart tidak dapat diabaikan atau dipandang sebelah mata. Media ini dapat memberikan kontribusi yang positif bagi anak melalui sifatnya, yaitu membuat anak merasa senang dan menumbuhkan imajinasi anak.

  Identifikasi Masalah

Beberapa identifikasi masalah yang muncul berdasarkan latar belakang masalah di atas adalah sebagai berikut.

  1. Kurangnya kebiasaan menulis di kalangan siswa kelas VIII E SMP Negeri 16 Yogyakarta.
  2. Kurangnya waktu untuk praktik menulis karangan deskripsi berbahasa Jawa di sekolah
  3. Belum ditemukan media yang sesuai untuk pembelajaran menulis karangan deskripsi berbahasa Jawa.
  4. Kemampuan menulis karangan dekripsi berbahasa Jawa siswa kurang optimal.

 Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, muncul banyak permasalahan yang harus diselesaikan. Agar penelitian ini lebih terfokus dan mendalam kajiannya perlu ada pembatasan masalah penelitian. Oleh karena itu, penelitian ini dibatasi pada permasalahan apakah ada peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi berbahasa Jawa dengan media gambar flow chart siswa kelas VIII E SMP Negeri 16 Yogyakarta dan bagaimanakah media gambar flow chart dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi berbahasa Jawa siswa kelas VIII E SMP Negeri 16 Yogyakarta.

 

                              Perumuusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah, dapat disimpulkan masalah penelitian ini adalah bagaimana media gambar flow cart dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi berbahasa Jawa siswa kelas VIII E SMP Negeri 16 Yogyakarta?

 

  1. e.                               Tujuan Penelitian

Sesuai dengan pokok permasalahan di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan ketrampilan menulis karangan deskripsi berbahasa Jawa pada siswa kelas VIII E  SMP N 16 Yogyakarta dengan menggunakan media gambar flow chart                    

                                        Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat secara praktis, yaitu sebagai berikut :

  1. Bagi siswa, hasil penelitian ini akan dapat digunakan sebagai cara untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi berbahasa Jawa;
  2. Bagi guru dan calon guru Bahasa Jawa, penelitian ini dapat dijadikan referensi tindakan dalam meningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi berbahasa Jawa;
  3. Bagi peneliti, penelitian ini akan menjadi bentuk pengabdian dan penerapan dari ilmu yang didapat, memberikan pengalaman kepada peneliti, serta dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat terutama dalam bidang pendidikan;
  4. Bagi pihak sekolah, penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di sekolah. Selain itu diharapkan dapat menjadi pemacu untuk mengembangkan penelitian dan penulisan karya ilmiah lainnya sebagai penunjang peningkatan kualitas pendidikan.                               Definisi Istilah

Agar diperoleh pemahaman yang sama antara penulis den pembaca tentang istilah pada judul skripsi ini, maka perlu adanya pembatasan istilah :

  1. Peningkatan adalah proses, cara, pembuatan meningkat (usaha, kegiatan, dan sebagainya).
  2. Ketrampilan adalah kecakapan melakukan sesuatu dengan baik cermat, tepat, dan cepat.
  3. Flow chart adalah media gambar yang berisi beberapa buah yang berhubungan satu dengan yang lain. Gambar ini tersusun rapi dan berbentuk lambang-lambang visual yang menunjukkan perbandingan, perbedaan, proses kerja dari awal sampai akhir suatu kejadian.
  4. Ketrampilan menulis adalah suatu kemampuan seseorang dalam mengekspresikan pikiran dan perasaan yang dituangkan ke dalam bahasa tulis sehingga hasilnya dapat dinikmati dan dipahami oleh orang lain
  5. Karangan deskripsi adalah salah satu jenis paparan yang memberikan penjelasan tentang persepsi seperti apa adanya. Deskripsi memberikan gambaran tentang sesuatu yang konkret seperti melukiskan pemandangan atau segala sesuatu yang dapat diinderakan. Selain itu, deskripsi melukiskan sesuatu yang abstrak yang seperti emosional seperti kesedihan, kekacaubalauan, dan sebagainya.
  6. Menulis karangan deskripsi adalah kecakapan melahirkan pikiran dan tulisan yang melukiskan sesuatu sesuai dengan keadaan sebenarnya, sehingga pembaca dapat mencitrai (melihat, mendengar, merasakan, dan mencium) apa yang dilukiskan sesuai dengan citra penulisnya secara cermat, tepat, dan cepat.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

  1. A.    Media Pengajaran
  2. 1.      Pengertian Media Pengajaran

         Proses belajar mengajar tidak bisa terlepas dari unsur-unsur yang berupa tujuan, bahan pelajaran, metode, alat bantu, dan evaluasi. Alat bantu yang berupa media pengajaran memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar. Untuk mengetahui gambaran tentang media pengajaran penulis mengutip beberapa definisi mengenai media pengajaran yang telah diungkapkan oleh para ahli.

Media pengajaran merupakan setiap alat baik hardware maupun software yang dipergunakan sebagai media komunikasi dengan tujuan untuk meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar. Hal senada disampaikan oleh Hamalik (1986: 23) sebagai alat, metode, teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran.

Beberapa pendapat di atas kiranya dapat memberi gambaran bahwa media pengajaran adalah alat bantu atau perlengkapan yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar sebagai alat komunikasi antara guru dengan siswa. Alat-alat bantu tersebut pada hakikatnya digunakan untuk memudahkan guru dalam menyajikan materi pelajaran dan untuk menghindarkan verbalisme bagi siswa serta meningkatkan keefektifan proses belajar mengajar.

  1. 2.      Fungsi Media Pengajaran

Hamalik (1986: 27) mengemukakan fungsi media pendidikan sebagai berikut:

  1. Media dapat memberikan pengalaman yang berarti bagi siswa dan meletakkan dasar-dasar untuk berpikir.
  2. Memperbesar perhatian siswa sehingga membuat pelajaran terarah.
  3. Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menimbulkan kegiatan sendiri di kalangan siswa.
  4. Membantu timbulnya pengertian dan dengan demikian membantu perkembangan kemampuan berbahasa.
  5. Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain, serta memberikan keragaman yang lebih banyak dalam belajar.
  1. 3.      Manfaat Media Pengajaran

Sudjana & Rivai (1992: 2) mengemukakan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa, yaitu:

  1. pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar;
  2. bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pengajaran;
  3. metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apabila guru mengajar pada setiap jam pelajaran;
  4. siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.

Media pengajaran mempunyai banyak fungsi yang dapat membantu keberhasilan proses belajar mengajar, karena media pengajaran berfungsi sebagai saluran untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran dari guru kepada siswa, dapat mengurangi penyampaian materi pelajaran secara verbalistis, serta merangsang perhatian dan mengaktifkan siswa.

  1. 4.      Jenis-jenis Media Pengajaran

Soeparno (1988 : 11-12) mengklasifikasikan media pengajaran berdasarkan karakteristiknya, dimensi presentasinya, dan berdasarkan pemakainya. Berdasarkan karakteristiknya, media dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

  1. media yang memiliki karakteristik tunggal misalnya : radio, rekaman, slide, reading box dan reading machine
  2. media yang memiliki karakteristik ganda misalnya : film bisu, film bersuara, TV, OHP, dan slide suara

Berdasarkan dimensi presentasinya, media dapat dibedakan menurut lamanya presentasi dan sifat presentasinya.

  1. Berdasarkan lama presentasinya dibedakan :
    1. presentasi sekilas misalnya : radio, rekaman film, TV dan  flash card
    2. presentasi tak sekilas misalnya : OHP, flow chart, kubus struktur dan bumbung substitusi.
    3. Berdasarkan sifat presentasinya dibedakan :
      1. presentasi kontinyu misalnya : radio, TV, film
      2. presentasi nonkontinyu misalnya : OHP, flow chart, kubus struktur dan bumbung substitusi dan sebagainya

Berdasarkan pemakainya, media dapat dibedakan menurut :

  1. jumlah pemakainya misalnya media untuk kelas besar, untuk kelas kecil dan media untuk belajar secara individual
  2. usia dan tingkat pendidikan pemakainya misalnya : media untuk murid TK, untuk murid SD, siswa SLTP, siswa SLTA dan untuk Mahasiswa di perguruan tinggi.

Berdasarkan klasifikasi media pendidikan di atas, selanjutnya dapat diketahui bahwa media flow chart merupakan media pengajaran bahasa yang tergolong media visual.

  1. 5.      Flow Chart

Pendapat yang lengkap dikemukakan oleh Soeparno (1988: 18) bahwa media flow chart adalah media  yang berisi beberapa buah gambar yang berhubungan satu dengan yang lain sehingga membentuk serangkaian cerita. Biasanya setiap gambar diberi nomor urut sesuai dengan urut-urutan jalannya cerita.

Menurut Sadiman (1990: 37),  flow chart menggambarkan arus suatu masalah atau dapat pula menelusuri tanggung jawab atau hubungan kerja antara berbagai bagian atau seksi suatu organisasi”.

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan bila menggunakan media gambar flow chart, yaitu :

  1. Gunakan gambar atau flow chart yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan siswa (isi, ukuran, dan warna).
  2. Saat memegang atau memperlihatkan gambar, usahakan agar gambar tersebut jangan sampai bergerak.
  3. Hindari penggunaan gambar dalam jumlah dan jenis yang terlampau banyak, sebab hal ini cenderung membingungkan siswa. Kecuali jika ingin membandingkan beberapa gambar, maka perlihatkanlah gambar itu satu persatu agar perhatian siswa hanya tertuju pada gambar yang sedang diamati.
  4. Arahkan perhatian siswa pada sebuah gambar, kemudian ajukan beberapa pertanyaan langsung sehubungan dengan gambar tersebut.
  5. Jika ingin memperlihatkan gambar pada siswa tanpa pengawasan secara khusus dari guru, usahakan agar ada keterangan tertulis pada begian bawah dari gambar tersebut. Keterangan tersebut harus singkat tetapi jelas (tidak membuat siswa bingung dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri atau pada orang lain).
  6.  Lebih baik jika guru menulis pertanyaaan-pertanyaan dan jawabannya di samping gambar tersebut, tetapi tutuplah gambarnya dengan kertas. Biarkan setiap siswa menguji sendiri kebenaran jawaban mereka dengan membandingkannya dengan jawaban yang telah disiapkan oleh guru.

Latuheru (1988: 45) memberi batasan bagan atau chart sebagai serangkaian gambar atau uraian singkat yang tersusun rapi dan berbentuk lambang-lambang visual yang menunjukkan perbandingan, perbedaan, proses kerja dari awal sampai akhir suatu kejadian. Bagan banyak ditemukan dalam buku-buku tulis dan lain-lain bahan pembelajaran. Suatu bagan yang dibuat dengan baik akan mampu menyalurkan isi pesan melalui saluran visual (indera lihat) atau mata. Selanjutnya, ia menegaskan adanya beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1.  bagan harus berisikan suatu informasi yang nyata dan dapat dilihat
  2. harus mudah dimengerti
  3. harus sederhana.

Flow charts, memperlihatkan suatu urutan, suatu proses, arah ataupun aliran dan urutan suatu proses. Biasanya bagan ini digambarkan secara horisontal untuk memperlihatkan bagaimana perbedaan kegiatan, bahan-bahan, maupun gabungan dari beberapa prosedur menjadi suatu keutuhan menuju penyelesaian suatu pekerjan. Menfaat dari bagan (chart=carta) adalah :

  1. merangkum suatu keterangan secara sederhana
  2. memperlihatkan hubungan antara data yang satu dengan data yang lain secara jelas dan mudah
  3. mendorong siswa berpikir secara kritis atau analitis.

Adapun kelemahannya adalah bagan (charts) hanya dapat menggambarkan sesuatu secara simbolis, dan hanya bersifat kuantitatif.

  1. B.     Keterampilan Menulis

Keterampilan dapat diartikan sebagai kecakapan melakukan sesuatu dengan baik, cermat, tepat dan cepat. Dalam penelitian ini, istilah keterampilan dibedakan dengan kemampuan walaupun kedua istilah tersebut sangat erat berhubungan. Kemampuan (competence) adalah sesuatu yang masih ada dalam batin seseorang. Sedangkan keterampilan (performance) adalah perwujudan apa yang terdapat dalam batin orang tersebut.

Kaswan Darmadi (1996:22) mengatakan, sebagai puncak kemampuan berbahasa, kegiatan menulis merupakan kemampuan yang kompleks. Kegiatan ini tidak hanya membutuhkan pensil, kertas, mesin ketik atau komputer, tetapi yang lebih penting adalah kemampuan memilih atau menentukan ide atau topik tulisan, mencari fakta, mengorgananisasi materi tulisan, menyatukannya sehingga menjadi sebuah tulisan dan sebagainya. Dengan demikian, seorang pemula yang ingin belajar menulis pun harus tahu bahwa untuk menyelesaikan tugas-tugas menulis  yang sederhana pun tetap diperlukan sejumlah kemampuan.

Menulis merupakan kegiatan berpikir teratur. Keteraturan dalam menulis ini tampak pada keteraturan menuangkan gagasan dan menggunakan kaidah-kaidah bahasa. Sebuah tulisan dikatakan baik apabila disampaikan sesuai tujuan dan situasi berbahasa, sedangkan tulisan dapat dikatakan benar apabila sesuai dengan aturan, norma, kaidah bahasa yang berlaku. Selain menguasai aturan atau kaidah bahasa, penulis juga diharapkan dapat menyusun pilihan kata yang terdapat dalam konteks kalimat.

Dari uraian di atas dapat dirangkum pengertian bahwa keterampilan menulis adalah kecakapan mengorganisasikan gagasan dalam bentuk bahasa tulis secara baik dan benar.

  1. C.    Unsur-Unsur Tulisan

Ada beberapa unsur dalam tulisan yang perlu diperhatikan untuk mencapai penulisan yang efektif. Secara garis besar unsur-unsur tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu unsur organisasi tulisan dan unsur kebahasaan:

  1. 1.      Organisasi Tulisan

Keraf (1980: 34) dalam bukunya yang berjudul Komposisi, membagi tingkatan satuan bahasa sebagai berikut: kata, kalimat, dan paragraf. Kalimat merupakan suatu bentuk bahasa yang mencoba menyusun dan menuangkan gagasan-gagasan seseorang secara terbuka untuk dikomunikasikan kepada orang lain. Setingkat lebih tinggi dari kalimat adalah paragraf. Tataran yang lebih tinggi dari paragraf adalah wacana. Sebuah paragraf dapat dikatakan sebagai model karangan, tetapi karangan yang terkecil. Karena itu organisasi karangan dalam beberapa paragraf meliputi kesatuan, koherensi, dan kecukupan pengembangan.

a) Kesatuan

Setiap paragraf hanya memiliki satu pikiran utama sebagai pengendali. Fungsi paragraf adalah mengembangkan pikiran utama itu ke dalam kalimat-kalimat. Dalam mengembangkan kalimat tidak boleh ada kalimat yang menyimpang dari pikiran utama. Semua kalimat harus bersatu mendukung satu pikiran utama. Ramlan menyebutkan istilah kesatuan dengan istilah kepaduan.

b) Koherensi

Koherensi menitikberatkan hubungan antara kalimat dengan kalimat dalam sebuah paragraf atau hubungan antara paragraf dengan paragraf dalam sebuah wacana. Koherensi merupakan syarat keberhasilan sebuah karangan. Tanpa adanya koherensi, kumpulan informasi dalam kalimat tidak akan menghasilkan paragraf.

c) kecukupan pengembangan

Tulisan yang mudah dipahami oleh pembaca sangat bergantung pada cara penulis mengembangkan karangannya. Sebuah tulisan dapat dikembangkan dengan perincian yang cukup sehingga tulisan menjadi jelas. Perincian tersebut juga harus dikembangkan berdasarkan pemikiran yang logis. Kecukupan pengembangan dalam hal ini lebih menekankan pada urut-urutan pikiran.

Cara mengembangkan pikiran utama menjadi sebuah paragraf dan menentukan adanya hubungan baik antara pikiran utama dan pikiran penjelas, pikiran penjelas dengan pikiran penjelas, dapat dilihat dari urutan perinciannya. Urutan logis didasarkan pada tanggapan penulis atas hubungan dari perincian-perincian itu. Penggunaan hubungan yang logis dapat dilakukan melalui berbagai cara, misalnya dengan perbandingan dan pertentangan, sebab akibat, analogi, khusus umum dan sebagainya. Metode hubungan logis ini hanya berfungsi sebagai pola umum bagaimana satu argumentasi dapat dikembangkan.

  1. 2.      Aspek Kebahasaan

Kegiatan menulis selain menuntut kemampuan mengorganisasi karangan juga menuntut kemampuan menerapkan kaidah kebahasaan. Kaidah  kebahasaan meliputi penerapan penulisan kata dan kalimat efektif. Secara singkat dapat dikatakan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

a)secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan penulis

b)   sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pembaca seperti yang dipikirkan penulis (Keraf, 1980: 36).

  1. D.    Karangan Deskripsi

Deskripsi berasal dari kata latin describere yang berarti menulis tentang atau memberikan suatu hal. Dalam deskripsi penulis memindahkan kesan-kesannya, memindahkan hasil pengamatannya dan perasaaanya kapada para pembaca, dan menyampaikan sifat dan semua perincian wujud yang dapat ditemukan pada objek tersebut. Sasaran yang ingin dicapai dalam deskripsi adalah menciptakan atau memungkinkan terciptakan daya khayal (imajinasi) pada para pembaca, seolah-olah mereka melihat sendiri objek tadi secara keseluruhan sebagaimana yang dialami secara fisik oleh penulisnya. (Keraf, 1981:93).

Sujanto (1988:107) mendefinisikan deskripsi adalah salah satu jenis paparan yang memberikan penjelasan tentang persepsi seperti apa adanya. Deskripsi memberikan gambaran tentang sesuatu yang konkret seperti melukiskan pamandangan atau segala sesuatu yang dapat diinderakan. Selain itu, deskripsi melukiskan sesuatu yang abstrak yang seperti emosional seperti kesedihan, kekacaubalauan, dan sebagainya. Dengan kata lain, deskripsi adalah penentuan detail yang akan ditonjolkan untuk memperjelas pengertian atau gambaran tentang subjek yang akan dideskripsikan.

Tujuan tulisan deskriptif adalah mengajak para pembaca menikmati, merasakan, memakai sebaik-baiknya objek, adegan, kegiatan orang atau suasana hati yang telah dialami oleh penulis. Oleh karena itu, kualitas yang dituntut oleh tulisan deskriptif adalah daya tanggap yang tajam dan kepandaian mempergunakan kosa kata yang memadai (Tarigan, 1985:52).

Menurut Sirait (1985:20), berdasarkan tujuannya, deskriptif dibedakan menjadi 2 macam yaitu :

  1. Deskriptif Sastra.

Deskriptif ini bertujuan untuk menimbulkan imajinasi, kesan, dan pengaruh kepada para pembaca. Deskriptif sastra melukiskan hakikat yang nyata dari suatu objek sebagai titik tolak, kemudian perlahan bergerak ke arah imajinasi dan perasaan. Deskripsi ini berpusat pada permukaan dan keanekaragaman subjek yang bersangkutan.

  1. Deskriptif Teknis atau Deskripsi Ekspositori.

Deskripsi ini bertujuan untuk memberikan identikasi atau informasi mengenai objeknya, sehingga pembaca dapat mengenalnya bila bertemu objek tadi. Deskripsi ini tidak berusaha untuk menciptakan kesan pada diri pembaca. Deskripsi teknis secara harfiah mengatakan apa yang ada, dalam arti apa yang dilukiskan itu dapat diperiksa kebenarannya.

Dari uraian pendapat beberapa ahli tersebut, dapat disimpulkan beberapa definisi dan tujuan karangan deskripsi, sebagai berikut :

1. karangan deskripsi adalah karangan yang berusaha menggambarkan objek seperti apa adanya sehinggga pembaca seolah-olah dapat melihat objek tersebut secara langsung.

2. karangan deskripsi dalam penelitian ini bertujuan untuk memberi informasi mengenai suatu objek, sehingga pembaca dapat mengenalnya bila bertemu objek tersebut.

3. Deskripsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi teknis, karena tidak bertujuan untuk menimbulkan imajinasi, pengaruh, atau kesan kepada pembaca.

  1. E.     Tujuan dan Fungsi Menulis
    1. Tujuan Menulis

Menurut Imam syafi’ie (1988 :51–52) menyatakan bahwa tujuan penulisan sangat banyak karena setiap penulisan dapat menentukan tujuan penulisan yang dikehendakinya. Meskipun demikian, secara garis besar kita dapat mengklasifikasikan tujuan penulisan sebagai berikut :

a)      Mengubah keyakinan pembaca. Setelah selesai membaca tulisan kita diharapkan :

  • mempercayai sesuatu hal berkaitan dengan perihal pokok tulisan kita;
  • memikirkan secara sungguh-sungguh sesuatu hal yang berkaitan dengan perihal pokok yang kita tuliskan;
  • memperhatikan sesuatu hal yang sebelumnya mereka abaikan berkaitan dengan perihal pokok yang kita sajikan;
  • menyetujui apa yang kita kemukakan berkaitan dengan perihal pokok yang kita sajikan.

b)      Menanamkan pemahaman terhadap sesuatu pada pembaca. Setelah selesai membaca tulisan kita harapkan pembaca memahami perihal pokok yang kita sajikan.

c)      Merangsang proses berfikir pembaca. Setelah membaca tulisan kita diharapkan pembaca terangsang untuk memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan perihal pokok yang kita sajikan. Dalam hal ini yang dipentingkan adalah aktivitas berfikir mengenai sesuatu itu sendiri. Oleh karena itu, tidak harus sampai pada kesimpulan atau hasil.

d)     Menyenangkan atau menghibur pembaca. Setelah membaca tulisan kita diharapkan pembaca memperoleh kesenangan sehingga mereka terhibur hatinya.

e)      Memberi tahu pembaca. Setelah selesai membaca tulisan kita dihararapkan pembaca mengetahui sesuatu yang berkaitan dengan perihal pokok yang kita sajikan.

f)       Memotivasi pembaca. Setelah membaca tulisan kita harapkan pembaca terdorong untuk melakukan sesuatu hal berkaitan dengan perihal pokok yang kita saajikan.

Masing-masing tujuan penulisan dalam klasifikasi di atas bisa saling berhubungan antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, dalam satu tulisan seorang penulis dapat mengemukakan beberapa tujuan.

  1. Fungsi Menulis

Selain mempunyai tujuan tersebut di atas, menulis juga mempunyai fungsi. Menurut Fachruddin (1988: 6), fungsi menulis adalah sebagai berikut:

a)      Menulis menolong kita menemukan kembali apa yang pernah kita ketahui. Menulis mengenai satu topik merangsang pikiran kita mengenai topik tersebut dan membantu kita membangkitkan pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam bawah sadar.

b)      Menulis menghasilkan ide-ide baru. Tindakan menulis merangsang pikiran kita untuk mengadakan hubungan, mencari pertalian dan menarik persamaan (analogi) yang tidak akan pernah terjadi seandainya kita tidak mulai menulis.

c)      Menulis membantu mengorganisasikan pikiran kita, dan menempatkannya dalam suatu bentuk yang berdiri sendiri. Ada kalanya kita dapat menjernihkan konsep yang kabur atau kurang jelas untuk diri kita sendiri, hanya karena kita menulis mengenai hal itu.

d)     Menulis menjadikan pikiran seseorang siap untuk dilihat dan dievaluasi.

e)      Menulis membantu kita menyerap dan menguasai informasi baru.

f)       Menulis membantu kita memecahkan masalah dengan jalan memperjelas unsur-unsurnya dan menempatkannuya dalam suatu konteks visual, sehingga ia dapat diuji.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menulis dapat berfungsi melatih seseorang untuk mengungkapkan sesuatu secara jujur agar dapat dilihat oleh orang lain. Di samping itu, menulis juga dapat digunakan sebagai jalan penyelesaian masalah.

  1. F.        Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian Rina Tri Indrianingrum yang berbentuk skripsi dengan judul Penggunaan Media Pembelajaran Flow Chart untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Narasi Berbahasa Jawa Siswa Kelas VIII SMP Negeri 25 Purworejo. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran flow chart mampu meningkatkan keterampilan menulis narasi berbahasa Jawa siswa kelas VIII SMP Negeri 25 Purworejo.

Sesuai dengan permasalahan dan hasil penelitian serta pembahasan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini, dapat disimpulkan bahwa tindakan berupa media flow chart mampu meningkatkan ketrampilan menulis kerangan narasi siswa. Pelaksanaan tindakan  pada tahun 2007 dan penelitian ini dilaksanakan selama 3 siklus yang dapat meningkatkan skor manulis narasi. Media flow chart dapat membantu siswa menuangkan ide atau gagasan dengan lancar.

Penelitian kedua adalah penelitian berbentuk skripsi yang disusun oleh Anita Dyah Fitriana. Judulnya adalah VCD Campursari Sebagai Media Pembelajaran Dalam Upaya Peningkatan Ketrampilan Menulis Deskripsi Berbahasa Jawa Pada Siswa Kelas XI IPA I SMAN 1 Banguntapan Yogyakarta.

Berdasarkan deskripsi hasil yang telah diuraikan dalam skripsi ini dapat disimpulkan bahwa media VCD Campursari terbukti dapat menigkatkan ketrampilan menulis deskripsi berbahasa Jawa siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan bulan Juni 2009 dengan tujuan penelitian untuk meningkatkan ketrampilan menulis deskripsi pada siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1 Banguntapan. Peneliti memilih objek peneltian karangan deskripsi karena siswa kelas di sekolah ini kurang lancar dalam menuangkan ide-idenya untuk disampaikan. Ketrampilan menulis sangatlah penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, untuk itu ketrampilan menulis ini layak dan pantas ditingkatkan.

Dalam penelitian yang akan saya laksanakan perlu adanya media, yaitu media yang berupa gambar. Gambar ini adalah gambar yang berbentuk bagan dan merupakan satu rangkaian suatu kejadian, peristiwa atau sebuah kegiatan. Media ini tidak beda dengan penelitian yang berbentuk skripsi dan disusun oleh Rina Tri Indrianingrum yaitu menggunakan media flow chart. Perbedaan yang terdapat dalam panelitian ini adalah fokus penelitiannya. Penelitian Rina Tri Indrianingrum fokusnya adalah karangan narasi, sedangkan penelitian yang akan saya lakukan fokusya adalah karangan deskripsi. Media flow chart terbukti dapat meningkatkan ketrampilan menulis karangan narasi, sehingga menurut saya media ini diperkirakan dapat meningkatkan ketrampilan menulis karangan deskripsi pula.

Ketrampilan menulis sangatlah penting karena dengan ketrampilan menulis siswa dapat meningkatkan bakat kebahasaan yang ada dalam dirinya. Saya mengambil fokus ini karena menurut saya kerampilan ini harus ditingkatkan dan tidak boleh dipandang sebelah mata. Fokus yang saya pilih dalam penelitian yang akan saya lakukan adalah sama dengan fokus yang diteliti oleh Anita Dyah Fitriana yaitu peningkatan ketrampilan menulis karangan deskripsi. Adapun perbedaan antara penelitian yang akan saya lakukan dengan penelitian Anita Dyah Fitriana adalah berupa media pembelajarannya.

  1. G.    Kerangka Berpikir

Proses belajar mengajar merupakan salah satu segi yang perlu diperhatikan karena banyak sekali kegiatan yang terjadi di dalamnya. Satu diantaranya penyampaian materi pelajaran dapat menentukan berhasil tidaknya proses belajar-mengajar yang sedang berlangsung, seperti halnya dalam menulis. Penyampaian materi pelajaran akan lebih mudah dimengeti oleh siswa apabila disertai dengan penggunaan media pedidikan yang tepat. Selain itu, menulis juga membutuhkan proses, latihan, serta praktek secara terus-menerus agar dididapatkan hasil karangan yang optimal, hal inilah yang terkadang membuat siswa enggan untuk terus berlatih menulis, sehingga mengakibatkan ketrampilan menulis mereka rendah.

Untuk mengatasi hal ini, guru dapat mengunakan media gambar flow chart. Media gambar flow chart adalah salah satu media yang digunakan dalam dunia pendidikan, khususnya pada proses belajar-mengajar di kelas. Pengguaan media gambar flow chart diduga dapat menarik minat siswa. Media gambar flow chart memuat sebuah objek tertentu, misalnya berupa benda atau peristiwa yang dapat diamati secara langsung sehingga mempermudah siswa dalam mengenal objek yang dimaksud. Dalam pembelajaran menulis, khususnya menulis karangan deskripsi kehadiran sebuah objek yang akan ditulis yang terdapat di dalam media gambar flow chart sangat membantu siswa untuk mendeskripsikan secara detail gambar yang akan ditulis tersebut. Siswa lebih mudah membayangkan kehadiran objek yang dimaksud sebelum menuangkan ke dalam bentuk tulisan. Siswa juga dapat menuliskan detail yang lebih spesifik tentang objek tersebut, karena benda yang ditulis hadir di dalam media gambar flow chart yang dilihatnya.

Media gambar flow chart dapat memberikan kontribusi pada pembelajaran menulis deskripsi. Di samping itu, kompetensi bahasa target yang digunakan untuk mendeskripsikan benda tersebut berpengaruh terhadap kualitas tulisan. Siswa yang mempunyai kompetensi yang baik terhadap bahasa target tentu tidak merasa kesulitan dalam mendekripsikan secara  lengkap detail benda yang terdapat di dalam media gambar flow chart.

Berdasarkan uraian di atas, adanya pengajaran menulis dengan media gambar flow chart diharapkan akan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis, khususnya menulis karangan deskripsi.

  1. H.    Hipotesis Tindakan

Hipotesis dalam penelitian tindakan ini adalah apabila pengajaran menulis dilaksanakan dengan media gambar flow chart, ketrampilan menulis karangan deskripsi siswa kelas VIII E SMPN 16 Yogyakarta meningkat.

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. A.    Metode  Penelitian

Metode penelitian yang dipergunakan adalah penelitian tindakan kelas atau classroom action research. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian tentang kelas sasaran dengan memanfaatkan interaksi, partisipasi dan kolaborasi antara peneliti, guru bahasa Jawa, dan siswa sebagai subjek penelitian. Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam proses pembelajaran di kelas. Tujuan dipilihnya jenis penelitian ini untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi bahasa Jawa siswa kelas VIII E SMP N 16 Yogyakarta dengan menggunakan media gambar flow chart. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian tindakan Kemmis dan Taggart. Dalam model penelitian tindakan ini terdapat empat komponen yaitu

1)      perencanan (planning),

2)      tindakan (acting),

3)      observasi (observing),

4)      refleksi (reflecting) ( Kemmis, dkk. dalam Suwarsih Madya, 1994: 25).

  1. B.     Subjek dan Objek Penelitian

Peneliti mengambil setting penelitian di SMP Negeri 16 Yogyakarta. Alasan dipilihnya sekolah ini karena sekolah tersebut memililki fasilitas dan media pembelajaran yang cukup baik, tetapi niat belajar siswa masih kurang. Untuk itu, dengan hasil penelitian yang dapat dicapai pada penelitian diharapkan dapat membangkitkan motivasi guru dan siswa dalam pembelajaran Bahasa Jawa dan dapat berkompetisi dengan sekolah lain. Di SMP Negeri 16 Yogyakarta belum pernah diadakan penelitian untuk mata pelajaran Bahasa Daerah, dan alasan ini mendorong saya ingin mencoba untuk mengadakan penelitian di sekolah ini.

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas  8E SMP Negeri 16 Yogyakarta. Sementara itu, objek penelitian tindakan kelas ini adalah keterampilan menulis karangan deskripsi berbahasa Jawa siswa kelas  8E SMP Negeri 16 Yogyakarta.

  1. C.    Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMPN 16 Yogyakarta yang terletak di sebelah barat alun-alun kidul, Yogyakarta. Pelaksanaan kegiatan observasi lapangan dilaksanakan pada bulan Januari 2010. Penelitian  tindakan ini dilakukan selama satu bulan dimulai dari akhir Maret 2010 sampai akhir April 2010. Tindakan dilakukan saat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar bahasa Jawa berlangsung dengan frekuensi pembelajaran satu kali dalam satu minggu, dengan durasi waktu pembelajaran 90 menit setiap kali tatap muka.

  1. D.    Instrumen Penelitian

Instrumen merupakan alat yang dipergunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Instrumen Penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Lembar pengamatan digunakan untuk dapat mengungkapkan aktifitas siswa ketika proses pembelajaran menulis di kelas ketika tindakan dilaksanakan.
  2. Catatan lapangan yaitu mencatat persoalan-persoalan yang menarik. Catatan ini mencakup kesan dan penafsiran terhadap peristiwa yang terjadi di kelas ketika tindakan dilaksanakan.
  3. Tes digunakan untuk mengetahui keterampilan menulis karangan deskripsi berbahasa Jawa siswa. Tes yang dilakukan terdiri dari pretes dan postes. Pretes yaitu alat pengumpulan data yang akan menjabarkan kemampuan awal siswa, sedangkan postes merupakan alat pemeroleh data berupa kemampuan siswa setelah diberi tindakan pada akhir siklus.
  4. Panduan wawancara yang perlu disiapkan adalah beberapa pertanyaan yang erat hubungannya dengan sekolah dan perihal menulis deskripsi. Perlu disisipkan juga beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan media pembelajaran gambar Flow chart. Dalam wawancara diperlukan waktu tersendiri di luar jam pelajaran untuk memfokuskan inti dari permasalahan.
  1. E.     Teknik Pengumpulan Data

      Sumber data dalam penelitian tindakan ini meliputi siswa, guru, dokumen hasil pembelajaran dan proses pembelajaran. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, catatan lapangan dan deskripsi pada saat pelaksanaan pembelajaran, serta tes. Semua teknik pengumpulan data tersebut dipergunakan untuk memperoleh data tentang hasil penelitian tindakan. Hasilnya dipadukan dan dianalisis untuk selanjutnya diambil kesimpulan.

  1. Observasi

Observasi atau pengamatan dilakukan untuk memperoleh data dari subjek penelitian berupa data kualitatif. Observasi dilakukan untuk mengamati perilaku anak didik, tanggapan siswa, dan penilaian siswa terhadap metode yang digunakan saat pembelajaran menulis. Selain itu, pengamatan terhadap interaksi, perilaku, kemampuan menyerap materi, serta hubungan sosial yang terjadi antara guru dengan siswa ataupun antara siswa dengan siswa dalam proses pembelajaran menulis juga menjadi bahan pengamatan.

  1. Catatan lapangan

Catatan lapangan dan deskripsi pada saat pelaksanaan pembelajaran dipergunakan untuk mencatat semua hal yang terjadi pada saat proses pembelajaran menulis berlangsung. Pencatatan dilakukan dengan mengamati subjek penelitian secara bertahap dalam setiap perlakuan tindakan. Pada saat kegiatan pembelajaran menulis berlangsung perlu dicatat kendala atau permasalahan yang timbul baik dari pihak guru ataupun dari siswa. Pemantauan terhadap peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi oleh siswa perlu dicatat secara cermat.

  1. Tes

Tes digunakan untuk mengetahui ketrampilan menulis karangan deskripsi berbahasa Jawa siswa. Tes yang dilakukan terdiri dari pretes dan postes. Pretes yaitu alat pengumpulan data yang akan menjabarkan kemampuan awal siswa, sedangkan postes merupakan alat pemerolehan data berupa kemampuan siswa setelah diberi tindakan pada akhir siklus.

Tes yang digunakan adalah dengan menggunakan tes menulis, pemberian tugas menulis karangan deskripsi kepada siswa. Sebelum dilakukan tindakan menulis karangan deskripsi dengan media gambar flow chart, terlebih dahulu dilakukan pretes untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam menulis karangan deskripsi. Setelah dilakukan tindakan, kemudian dilakukan postes untuk mengetahui kemampuan menulis karangan deskripsi siswa setelah dilakukan tindakan.

  1. Wawancara

Wawancara dilakukan dengan guru dan siswa. Wawancara akan dilakukan di luar jam pelajaran. Wawancara yang dilakukan dengan siswa tidak semuanya diwawancarai, hanya perwakilan dari beberapa siswa saja. Wawancara dengan guru akan dilakukan secara tidak terstruktur untuk mengetahui proses pembelajaran yang telah dilakukan.

  1. Analisis Tindakan

Dokumen dalam penelitian ini adalah hasil pekerjaan siswa yang berupa tulisan karangan deskripsi.

  1. F.  Teknik Analisis Data

Teknik yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian tindakan ini adalah deskriptif. Teknik analisis deskriptif, yaitu teknik pengolahan data dengan cara mendeskripsikan peningkatan aktifitas pembelajaran, perilaku, motivasi, serta peningkatan keterampilan menulis karangan deskrispsi siswa dari hasil pengamatan atau observasi, catatan lapangan, deskripsi data pada saat proses tindakan berlangsung, serta tes. Hasil pengamatan dan catatan lapangan menggambarkan peningkatan proses pembelajaran menulis sebelum diberi perlakuan dan setelah diberi perlakuan, sedangkan tes menghasilkan data berwujud angka atau skor keterampilan menulis karangan deskripsi berbahasa Jawa.

Skor akan menggambarkan adanya perubahan kemampuan entah berupa penurunan ataupun peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi berbahasa Jawa siswa sebelum diberi tindakan dan setelah diberi tindakan.

  1. G.    Prosedur Penelitian
  1. Perencanaan

Tahap perencanaan dilakukan sebelum tindakan diberikan kepada siswa. Peneliti dan guru kolaborator melakukan diskusi yang dilanjutkan dengan observasi kelas dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi. Pembelajaran dibuat seperti yang biasa dilakukan dan siswa diuji keterampilan menulis karangan deskripsi seperti yang biasa dilakukan. Adapun rincian kegiatan dalam tahap perencanaan tindakan diantaranya sebagai berikut.

a)      Peneliti bersama kolaborator menyamakan persepsi dan melakukan diskusi untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi.

b)      Guru melakukan kegiatan pembelajaran menulis karangan deskripsi dengan pendekatan dan model pembelajaran yang biasa dilakukan.

c)      Peneliti membagikan angket kepada siswa untuk mengetahui proses, kendala, tanggapan tentang pembelajaran menulis karangan deskripsi yang biasa dilakukan.

d)     Menyiapkan instrumen berupa lembar pengamatan, lembar penilaian, catatan lapangan, dan pedoman wawancara.

  1. Tindakan

Pada tahap ini diterapkan perencanaan yang sudah dibuat bersama dengan guru. Guru melakukan proses pembelajaran menulis karangan deskripsi sesuai perencanaan yang telah dibuat sebelumnya dengan menggunakan media gambar flow cart.

  1. Observasi

Observasi dilakukan selama tindakan berlangsung. Observer (peneliti) menggunakan instrumen observasi antara lain lembar observasi yang dilengkapi dengan catatan lapangan. Aktivitas siswa menjadi fokus utama pengamatan. Hasil observasi digunakan sebagai data yang bersifat kualitatif untuk menilai keberhasilan penelitian secara proses. Rekaman berupa foto dan hasil tulisan siswa berupa karya menulis karangan deskripsi menjadi salah satu data yang akan dianalisis sebagai hasil observasi pada tindakan siklus.

  1. Refleksi

Refleksi dilakukan oleh peneliti dan guru untuk menilai tingkat keberhasilan pembelajaran menulis karangan deskripsi menggunakan media gambar  flow cart. Kekurangan dan kendala selama penelitian berlangsung akan didiskusikan dan akan dicari solusinya sebagai pijakan bagi siklus selanjutnya.

  1. H.  Validitas Penelitian

Adapun validitas yang digunakan dalam penelitian tindakan ini adalah validitas demokratik, proses, dan dialogik.

  1. Validitas Demokratik

Validitas demokratik dilakukan dalam rangka identifikasi masalah, penentuan fokus masalah, perencanaan tindakan yang relevan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan penelitian dari awal hngga akhir penelitian. Semua subjek yang terkait meliputi guru, kolaborator dan siswa.

Penelitian tindakan ini memenuhi validitas demokratik karena peneliti benar-benar berkolaborasi dengan guru dan siswa serta pembelajaran bahasa Jawa khususnya dalam peningkatan ketrampilan menulis deskripsi pada siswa kelas VIII E SMP Negeri 16 Yogyakarta.

  1. Validitas Proses

Validitas proses pada penelitian ini dicapai dengan cara peneliti dan kolaborator secara intensif berkolaborasi dalam semua kegiatan yang terkait dengan proses penelitian. Pada penelitian ini tindakan dilakukan oleh guru sebagai praktisi tindakan di kelas dan peneliti sebagai participant observer yang selalu berada di kelas dan mengikuti proses pembelajaran.

  1. Validitas Dialogik

Berdasarkan data awal penelitian dan masukan yang ada, selanjutnya peneliti mengklarifikasikan, mendiskusikan, menganalisis data tersebut dengan guru bahasa Jawa untuk memperoleh kesepakatan. Penentuan bentuk tindakan pada penelitian ini dilakukan bersama antara peneliti dan guru bahasa Jawa SMP Negeri 16 Yoyakarta, yaitu Ibu Prapti. Dialog atau diskusi dilakukan untuk menyepakati bentuk tindakan yang sesuai sebagai alternatif pemecahan permasalahan dalam penelitian ini.

Mencintai, Bukan Memiliki

Aku mencintai mu,
seadanya diri mu tiada yang lain
nama mu indah terpahat di dalam
hal ini…

Aku mencintai mu..
bersama kerinduan tiada bertepi
dari pagi yang indah hingga malam
yang nyaman tiada terhitung rindu ini

Aku mencintai mu,
dari segala kelebihan mu
dan dari segala kekurangan mu

Aku mencintai mu,
tiada yang dapat ku persembahkan
tiada kata berkias seindah rembulan malam
tiada kata berkias seindah terbitnya mentari..

Aku cintai mu,
tanpa mengharap diri mu
menjadi milik ku abadi..
kerana aku mencintai mu dengan,
hati yang paling iklas..hanya pada mu sayang!
kerana ku tahu,

Mencintai Itu Bukan Bererti Memiliki..
Dan Semoga cinta ku akan setia hanya pada mu..


Tentang perasaan

Ku ingin kau tahu tentang perasaanku

Ku ingin kau tahu besar cinta padamu

Ingin ku berikan sisa waktuku

Dan sisa umurku sampai mati…

 

tapi kini sebaliknya,,,

akk akan belajar mengikhlaskannya

belajar melupakannya..

karena kini yang ku tahu

kau telah memilih yang lain…

 

sebenarnya…

Hidup Ku Di Dunia Hanya Sekali

Lebih Tak Berarti Tanpa Kau DisisiKu

Sampai Ku Mati AKu Ingin Bersama Denganmu…

 tapi apa daya,,

semua cara tlah ku lakukan

namun sia-sia…

 

selamat tinggal kasih,,

kita tidak dipersatukan didunia ini…

mungkin dikehidupan berikutnya…

 satu kalimat terakhir ku

semoga kau bahagia dengan pilihan hati mu…

 KAU ADALAH HAL TERINDAH YANG PERNAH KU MILIKI

selamanya…..

Seandainya aku BESOK mati

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Seandainya besok aku mati
Seandainya besok aku tak bisa lagi menggenggam tanganmu
Seandainya besok aku tak bisa lagi menjaga tubuhmu
Seandainya besok aku tak bisa lagi membahagiakanmu
Akan ku ceritakan semua keburukan kusembunyikan
Akan ku bongkar seluruh aib yang kusimpan
Akan ku buka segala dosaku yang kurahasiakan
Akan ku buat kau membenciku
Agar saat aku mati besok
Kau takkan kehilanganku
Kau takkan merindukanku
Dan kau takkan menangis untuk…………….

JALMA MARA, JALMA MATI

“Jagat iki ana, ana kang jaga!”
aku isih eling marang kandhamu, tatkalane lemah dadi kawah
ing antarane porong-tanggulangin
banjur krasa ana kang gosong ing batin
batin panguripku, ngegirisi marang daya lantipku
kaya gosonge areng klapa kang wus ilang wawa
kaya jasad kang limpad kelangan nyawa…
awakmu banjur nyuwun, nyadong
marang langit kaya nyadonge godong
kang wus kawus saka udan lan panas

“duh, kakang kawah, duh adi ari-ari, getih, puser
punjer awakku….”

kabeh krasa bali marang jati, kang kababar ing diri
kaya dununge pati urip bandan segara lungguh
duh, sampyuh ati lan pikiranku
ing telenge rasa,
aku banjur ndodog anane uni, kang bisa dadi basa
kang netepi janji marang margi kang wus dadi
crita kang kaserat ing lontar-lontar kuno

“ana suluh kang kasebut nuh, kang wus nabuh warta
ing kitab-kitab tuwa
bandang iku ora mung amerga udan
nanging uga saka kanyatan
kang dadi lelabuhan, jerone pager lan punjer”

“ana uga crita kang wus dadi dawa
saka lambe-lambe tuwa
kang sinebut baru klinting, rawa pening
nggon dununge ngening
kang dadi pepepiling
marang desa-desa ing kiwo-tengene Siring”

Wus dadi nujum, kandhamu, ana wektu kang bakal bali
marang latu, senajanta watu tetep kasebut watu
Wus dadi jangka, kandamu, ana cuwilan wektu kang bakal bali
marang saiki,
senajanta nganggo cara kang wus kaanggep ora ana
nganggo basa kang wus kaanggep mati
ing bumi

Gambar

isi hati ini

Berjuta rasa sayang ini hanya tertuju padamu,
aku tak sanggup bila harus memilih untuk
pergi dan mencari hati yang lain,,
aku tak peduli dengan semuanya..
yang aku pedulikan hanya hati ini .
hati ini yang selalu menyebut namamu,
dirimu, dan bayangmu .

Aku berbicara yang aku rasakan saat ini,
semuanya ini , kata-kata ini yang selalu aku tuliskan ,
itu semua suara hatiku, jeritan nuraniku, ini tanda sayangku untukmu ..
aku tak akan pernah bosan, untuk terus merangkai seribu puisi cinta ntukmu kasih,,
hem, aku disini berteman sepi di saat engkau tak disisiku,

Namun yang aku rasakan bayangmu selalu dekat denganku ..
dan aku disini terpejam untuk sesaat , yang aku bayangkan bersandar di bahumu,,
memegang erat kedua tanganmu, membisikkan lirih,
sebuah kata dari hati yang paling dalam ,,
aku selalu sayang kamu ndul ,,